Jumat, 18 Desember 2009 20:48 WIB Karanganyar Share :

Soal pencegahan longsor di pegunungan, Pemkab hadapi dilema

Karanganyar (Espos)–Upaya pencegahan bencana longsor yang dilakukan Pemkab Karanganyar di daerah pegunungan terkendala kultur masyarakat setempat. Tidak sedikit pogram pemerintah yang akhirnya terbentur dengan realita keseharian masyarakat.

Informasi yang dihimpun Espos, Jumat (18/12), sebagian masyarakat setempat terlalu nggampangke dengan situasi dan kondisi lingkungan mereka. Di daerah tingi dengan tingkat kemiringan tertentu, masyarakat lebih senang menanami areal itu dengan sayuran dan hortikultura. Bukannya tanaman keras dan produktif yang akarnya dapat menahan tanah, sebagaimana yang dianjurkan pemerintah untuk mencegah terjadinya bencana longsor.

“Di Tawangmangu, kami tidak henti-hentinya mensosialisasikan ke masyarakat tentang bahaya longsor dan upaya-upaya pecegahan yang dapat dilakukan. Namun semuanya memang kembali ke kesadaran masyarakat masing-masing,” kata Camat Tawangmangu, Yophi Eko Jati Wibowo.

Menurut dia, Pemkab dan dinas terkait juga berulang kali menggiatkan penanaman pohon di wilayah ini atau melakukan dropping tanaman keras dan produktif untuk ditanam warga setempat di daerah rawan longsor. Selain bisa mencegah longsor, buah dari tanaman keras itu masih bisa dimanfaatkan oleh warga.

Selain itu, sejumlah daerah bekas longsor dan daerah rawan longsor saat ini juga teah dipasangi alat detektor longsor buatan UGM Yogyakarta atau pun Jepang. Namun diakui Yophi, semua upaya yang dilakukan Pemkab itu menjadi percuma kalau masyarakat sendiri tidak sadar atau meremehkan kondisi dan situasi di lingkungan mereka.

“Kami lihat, masyarakat nggampangke situasi ini. Di lereng bukit pada perengan atau tanah dengan kemiringan tertentu, justru banyak ditanami sayuran, seperti loncang, wortel, bawang, dan sebagainya. Padahal itu rawan longsor. Kalau hujan, sangat berbahaya,” ujarnya.

Dalam hal ini, Pemerintah Kecamatan Tawangmangu mengalami dilema dalam melakukan upaya pencegahan bencana longsor di wilayah setempat. Sebab, untuk melarang warga agar tidak menanami lereng bukit dengan sayuran, ternyata sulit. “Warga setempat banyak yang mengantungkan hidup mereka dari mata pencaharian sektor ini. Mereka mencari uang dari bercocok tanam, khususnya sayur-sayuran. Apalagi di musim penghujan saat ini harga jual sayuran sedang bagus-bagusnya. Jadi, mereka mengejar produksi,” tambahnya.

Sekadar informasi, pada musim penghujan di bulan Desember 2007 lalu, bencana longsor terjadi di daerah Mogol, Tawangmangu, dan menewaskan 30-an warga setempat. Longsor terjadi akibat adanya peralihan penggunaan tanah perbukitan setempat, dari yang semula ditanami tanaman keras menjadi ladang pembudidayaan aneka tanaman hias, yang memang sedang booming pada tahun itu.

Terpisah, Bupati Karanganyar Rina Iriani meminta masyarakat untuk berperan serta menjaga lingkungan sekitar. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas penambangan galian C, atau menanam sayuran di lereng-lereng bukit. “Boleh bercocok tanam, tapi jangan yang membahayakan keselamatan,” pesannya.
dsp

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…