Jumat, 18 Desember 2009 13:19 WIB News Share :

Sedekah laut sebagai wujud syukur kepada Tuhan

Cilacap–Ribuan warga dan nelayan di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat, menggelar ritual tahunan sedekah laut sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rahmat-Nya yang telah diberikan selama ini.

Tradisi yang digelar setiap Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon di bulan Suro (Muharram) ini dimulai sejak Kamis (17/12) dengan menggelar tirakatan semalam suntuk yang berpusat di Pendopo Wijayakusuma Sakti dan di pelosok perkampungan nelayan di seluruh Cilacap.

Ritual dilanjutkan Jumat pagi dengan arak-arakan dari Pendopo Wijayakusuma Sakti menuju Pantai Teluk Penyu sejauh lima kilometer.

Sebelum arak-arakan diberangkatkan, dilakukan prosesi yang menggambarkan “seserahan” (penyerahan) sesaji berupa “jolen tunggul” (tempat sesaji) dari Adipati Cakrawerdaya III (Bupati Cilacap ke-3) kepada para nelayan.

Prosesi penyerahan sesaji kali ini berbeda dengan pelaksanaan sedekah laut tahun-tahun sebelumnya karena sosok Adipati Cakrawerdaya III diperankan oleh Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Cilacap Jarot Prasojo, bukan diperankan oleh aktor.

Dalam hal ini, Jarot Prasojo merupakan pejabat yang ditunjuk oleh penguasa tertinggi Kabupaten Cilacap, yakni Wakil Bupati Tatto Suwarto Pamuji (Bupati Cilacap Probo Yulastoro dinonaktifkan karena masih menghadap persidangan, red.) untuk memerankan sosok Adipati Cakrawerdaya III.

Selain itu, dalam prosesi kali ini sosok Adipati Cakrawerdaya III secara langsung memerintahkan kepada nelayan untuk menggelar sedekah laut.Dalam prosesi tahun sebelumnya, sosok Adipati Cakrawerdaya III memerintahkan Tumenggung Argamenawi untuk memimpin ritual sedekah laut.

“Penunjukan pejabat yang memerankan Adipati Cakrawerdaya III dilakukan tadi malam (Kamis, red.) dengan penyerahan kain samir dari Wakil Bupati Cilacap kepada Pak Jarot,” kata Seksi Upacara Panitia Gelar Budaya Sedekah Laut, Djarmo.

Menurut dia, prosesi penyerahan sesaji pada sedekah laut kali ini disesuaikan dengan tradisi semasa Adipati Cakrawerdaya III, yakni sang adipati memerintahkan secara langsung kepada nelayan untuk menggelar sedekah laut.

Setelah prosesi tersebut, arak-arakan yang terdiri iring-iringan¬† “jolen tunggul” yang mewakili pemerintahan dengan pengawalan puluhan prajurit, barisan pembawa umbul-umbul, dua kereta kuda, dan iring-iringan delapan “jolen” yang mewakili kelompok nelayan.

Sesampainya di Pantai Teluk Penyu, seluruh “jolen” tersebut segera diserahkan kepada juru larung yang dilanjutkan dengan doa kepada Tuhan YME sebagai wujud syukur dan permohonan keselamatan kepada-Nya.

Selanjutnya seluruh “jolen” berisi sesaji tersebut dibawa menggunakan perahu ke Pantai Nusakambangan untuk dilarung di sana.

Dalam prosesi pelarungan di Pantai Nusakambangan diikuti ratusan perahu nelayan.¬†¬† Kegiatan “sedekah laut” merupakan tradisi tahunan yang sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan Adipati Cakrawerdaya III pada tahun 1817.Namun, tradisi tersebut sempat terhenti dan dihidupkan kembali semasa Bupati Poedjono Pranjoto pada tahun 1982 hingga sekarang.
Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…