Rabu, 16 Desember 2009 22:05 WIB Karanganyar Share :

Tak setor bagi hasil retribusi, Pengelola Grojokan kena semprit


Karanganyar (Espos)–
Pemkab Karanganyar mengultimatum PT Duta, selaku pengelola obyek wisata Grojogan Sewu di Tawangmangu lantaran menunggak pembayaran sharing pemasukan selama tiga tahun terakhir ini.

Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) setempat, Pemkab menyatakan sudah jenuh dengan janji-janji kosong dan pernyataan kesanggupan dari pihak PT Duta.

“Pengelola obyek wisata Tawangmangu memang belum membayar tunggakan ke Pemkab. Jumlahnya hingga Rp 250 juta lebih. Saat ditagih, jawabnya selalu akan membikin surat pernyataan kesanggupan akan dibayarkan kapan. Namun, kenyataannya tiga tahun berturut-turut pernyataan kesanggupan untuk melunasi itu, tidak pernah terealisasi,” tegas Kepala Disparbud Karanganyar, Sutarno, kepada wartawan, Rabu (16/12).

Terkait hal itu, pihaknya meminta PT Duta supaya pada akhir tahun 2009 ini benar-benar melunasi tunggakan tersebut, yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

“Kalau hanya surat pernyataan, kami sudah bosan. Akan kami tunggu kenyataannya saja. Kalau memang tidak dibayar, tentu akan kami panggil. Biar pihak PT Duta menjelaskan secara langsung ke media massa, kenapa terus saja menunggak pembayaran yang sudah jadi hak Pemkab,” kata dia.

Terlebih, kondisi keuangan daerah saat ini sedang dalam situasi kritis. Suntikan dana segar tentu sangat dibutuhkan untuk menopang program kerja Pemkab setempat, yang pada 2010 mendatang terancam minim aktivitas karena terkendala dana.

“Tidak hanya dari Disparbud, dari dinas lain kalau bisa menggali potensi untuk pemasukan keuangan daerah, kenapa tidak? Memang kami didorong untuk mewujudkan itu. Untuk tahun 2010 saja, kami hanya dijatah anggaran senilai Rp 700 juta. Padahal, target PAD-nya senilai Rp 1 miliar,” tambahnya.

Selain menekan pihak pengelola obyek wisata yang nakal, Disparbud juga akan menempuh upaya lain untuk memaksimalkan pemasukan PAD dari sektor pariwisata. Contohnya, dengan melakukan validasi data kunjungan wisatawan ke semua obyek wisata. Di samping itu, pihaknya juga akan mengantisipasi terjadinya kebocoran pemasukan dari sektor pariwisata ini.

“Banyak data kunjungan wisatawan di obyek wisata tertentu yang berbeda dengan di lapangan. Pertama, karena faktor perbedaan waktu pendataan, atau memang ada kebocoran pendapatan yang disengaja atau tidak disengaja,” ujar Sutarno.

Diakuinya, pemasukan Disparbud selama ini hanya mengandalkan banyaknya karcis atau tiket masuk ke obyek wisata yang sudah diporporasi. Banyaknya tiket masuk obyek wisata yang terpakai itu dijadikan indikasi jumlah wisatawan yang masuk ke Karanganyar.

dsp

lowongan pekerjaan
Bengkel Bubut, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…