Rabu, 16 Desember 2009 10:21 WIB Ekonomi Share :

Realisasi rumah sederhana 2009 hanya 40%

Solo (Espos)--Real Estate Indonesia (REI) Solo merilis realisasi penjualan rumah sederhana di Solo dan sekitarnya tahun 2009 hanya 40% dari target yang ditetapkan. Jumlah unit yang bisa diserap masyarakat, berkisar 1.600-an unit.

Demikian disampaikan Ketua REI Solo, Yulianto W Kusumo, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (15/12). Ia mengatakan, tahun 2009 menjadi tahun yang berat bagi dunia properti, sebagai dampak krisis ekonomi global.

“Krisis global ini berdampak pada ekonomi makro, di mana kemudian likuiditas perbankan menjadi sangat protektif. Banyak pengajuan kredit perumahan rakyat (KPR) yang ditolak, bahkan bagi pengembang sendiri sulit mendapatkan kredit konstruksi,” papar Yulianto. Sehingga, dampaknya banyak pasar yang menunda pembelian unit rumah.

Dari realisasi ini, secara akumulatif termasuk dengan rumah kelas menengah ke atas, Yulianto menyebutkan tren kenaikan penjualan unit rumah baru terlihat pada triwulan terakhir 2009. Mulai Agustus sampai akhir tahun ada peningkatan penjualan berkisar 10% hingga 20%.

“Ini dipacu dengan realisasi penjualan rumah menengah ke atas, yang kami nilai lebih bisa bertahan. Untuk ketersediaan rumah sederhana ini pun juga tidak lepas dari pasokan listrik. Persoalan listrik ini menjadi momok bagi pengembang, terutama pengembang perumahan sederhana.”

Pengembang, ditambahkan Yulianto melakukan sejumlah strategi untuk menggenjot penjualan unit rumah akhir tahun. Seperti, ada yang menjual rumah tanpa finishing, ada yang memberikan subsidi bunga 2% – 4%, dan memberikan uang muka yang bisa diangsur.

Sementara itu, kendati tahun 2009 ini menjadi tahun yang berat bagi dunia properti, Yulianto memprediksi pasar properti tahun 2010 akan kembali pulih. Hal ini, lanjutnya, melihat beberapa indikator yang diperhitungkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat.

“Terutama adalah posisi BI Rate yang kami harapkan bisa bertahan atau malah justru bisa turun dari posisi 6,5%. Kemudian, jika dibandingkan inflasi tahun 2008 dengan tahun 2009, inflasi tahun 2010 akan lebih bisa dikendalikan. Begitu pula nilai tukar rupiah terhadap dolar juga akan mendukung. Sehingga, properti pun berharap besar dari penundaan pembelian tahun 2009 agar bisa direalisasikan tahun 2010.”

haw

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…