Senin, 14 Desember 2009 22:47 WIB Boyolali Share :

Soal proyek tol Solo-Semarang, Warga minta ganti rugi sesuai harga pasaran

Boyolali (Espos)–Warga Dukuh/Desa Dibal Kecamatan Ngemplak meminta panitia proyek jalan tol untuk memberikan ganti rugi harga tanah sesuai harga standar.

Salah satu warga Dukuh Dibal RT 1/RW 5, Walgito, 56, menuturkan, harga tanah yang berada di Jalan DPU (sebutan untuk tanah yang di tepi Jalan Raya Dibal-Kalioso) dihargai oleh panitia senilai Rp 300.000/meter.

“Saat ini, harga tanah di tepi jalan DPU sudah dihargai Rp 600.000 sampai Rp 700.000 per meternya. Warga hanya minta agar tanah kami dihargai sesui standar. Paling tidak mendekati harga standar,” ucap Walgito saat ditemui wartawan, di Dukuh Dibal Desa Dibal, Senin (14/1).

Pernyataan senada disampaikan beberapa warga lainnya yaitu Mulyatno, 65, Sugiyanto, 56, Siti Juwariyah, 42 dan Mujahid, 44. Mereka sangat berharap agar ganti rugi yang diberikan kepada warga benar-benar sebanding dengan harga tanah yang berlaku saat ini.

Juwariyah dan tetangganya itu menghendaki uang ganti rugi tersebut nantinya bisa dibelikan tanah kembali sesuai dengan kondisi yang sekarang.

“Kami ingin kalau nanti beli tanah lagi tidak tombok. Tempat kami sekarang sangat strategis, bisa untuk usaha dan tanah sawahnya merupakan tanah produktif. Kebanyakan rumah sekaligus untuk tempat usaha,” kata Juwariyah.

Walgito menuturkan melalui hasil usahanya di Toko Oli telah mampu mengkuliahkan keempat anaknya. Mujahid mengemukakan, ada sekitar 30 kepala keluarga (KK) yang tanahnya akan terkena proyek jalan tol Solo-Semarang.

Dijelaskan Walgito, sesuai penawaran dari panitia, harga tanah  di tepi jalan DPU dihargai Rp 300.000/meter. Adapun untuk harga tanah di jalan yang agak masuk Rp 250.000/meter dan jika lebih ke dalam lagi Rp 225.000/meter.

Untuk ganti bangunan, imbuh Walgito, jika satu lantai Rp 1,3 juta-Rp 1,8 juta dan apabila bangunan tingkat Rp 2,4 juta.

nad

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…