Senin, 14 Desember 2009 00:03 WIB Internasional Share :

Penculik bebaskan para sandera di Filipina

Prosperidad–Pria-pria suku yang bersenjata membebaskan puluhan sandera di Filipina selatan, Minggu setelah pihaknya berwenang mengalihkan kasus-kasus pembunuhan yang dituduhkan terhadap mereka ke sebuah pengadilan suku dan melucuti senjata mereka dan satu kelompok saingan.

Para pria bersenjata itu menculik 71 orang di provinsi Agusan del Sur, Kamis ketika mereka melarikan diri akibat dikejar polisi setelah terlibat baku tembak dengan seteru mereka  tetapi membebaskan 29 orang dalam dua hari.

Seorang anggota tim Reuters melihat sisa 42 sandera diturunkan dar tempat persembunyian pria-pria bersenjata itu di gunung dan dibawa ke kota Prosperidad dalam satu konvoi dibawah hujan lebat dengan didahului sebuah mobil yang membawa spanduk bertuliskan “Peace Reigns in Agusan”.

Pria-pria bersenjata itu juga ikut dalam konvoi itu setelah menyerahkan senjata-senjata mereka.

“Akhirnya krisis telah berakhir,” kata  wakil gubernur provinsi itu Santiago Cane kepada wartawan.”Senjata-senjata, peluru-peluru dan granat-granat mereka berada pada saya sekarang.”

Krisis sandera di wilayah Mindanao yang kacau itu terjadi hanya tiga minggu setelah 57 orang dibunuh di provinsi Maguindanao dalam satu serangan terkait dengan ketegangan yang meningkat menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Wilayah Mindanao penuh dengan bandit, gerilyawan Muslim, pemberontak komunis. Keluarga lokal yang sangat berkuasa mempertahankan tentara swsata mereka dan pertikaian antara mereka sudah sering terjadi.

Pasar keuangan tidak banyak terperngaruh akibat pembunuhan itu dan krisis sandera sejak aksi itu terjadi di Mindanao , yang jauh dari Manila dan pulau Luzon, pusat industri negara itu.

Tetapi para pengamat mengatakan aksi kekerasan kemungkinan akan meluas menjelang pemilu Mei tahun depan dapat mengurangi niat investor untuk menanamkam modal mereka di wilayah selatan itu.

Di Agusan, para perunding mengatakan para penculik menuntut kasus-kasus pembunuhan yang melibatkan mereka dicabut . Mereka juga menuntut polisi melucuti senjata dari kelompok suku yang sama, yang terlibat perseteruan dengan mereka.

Perang suku, yang dikenal penduduk lokal sebagai “rido”  merupakan satu hal hal biasa terjadi di selatan.

Studi-studi yang dibiayai Yayasan Asia dan Badan Pembangunan Internasional AS  tahun 2007  menemukan bahwa lebih dari 1.200 konflik suku di selatan sejak tahun 1930-an, menewaskan hampir 5.000 orang dan menyebabkan puluhan orang mengungsi.
Ant/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
Administrasi ( Wanita ) & Manager ( Pria), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…