Senin, 14 Desember 2009 16:55 WIB Boyolali Share :

Pedagang Pasar Kota Boyolali nggruduk Kantor Disperindag


Boyolali (Espos)–
Belasan pedagang Pasar Kota Boyolali mendatangi Kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disperindagsar) Kabupaten setempat, Senin (14/12).

Mereka memprotes pembagian los di pasar yang belum lama ini diresmikan Bupati Boyolali, Sri Moeljanto tersebut, karena ukuran los dinilai terlalu kecil terutama untuk bagian depan/muka dhasaran.

Kedatangan para pedagang pasar Boyolali Kota itu ditemui Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Disperindagsar Boyolali, Jarot Suryono, yang didampingi Kepala UPTD Pasar Kota Boyolali, Ayib Rusidi. Sedangkan para pedagang didampingi Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Boyolali (P3B), Jafar Widyo Utomo dan Konsultan Teknis PT Tata Bumi Raya (TBR), Wisnu Jarwo.

Dalam pertemuan tersebut mengemuka bahwa ukuran los yang diperhitungkan dalam Surat Ijin Dasaran Tetap (SIDT) di Pasar Kota Boyolali itu lebih kecil dari ukuran los yang dimiliki para pedagang tersebut pada saat pasar belum mengalami musibah kebakaran.

Beberapa pedagang yang dulu memiliki los dengan ukuran sekitar 2 m x 2,25 m, hanya akan memperoleh los dengan ukuran 1,5 m x 3 m. Ukuran tersebut, menurut para pedagang dinilai terlalu sempit, terutama karena bagian muka dasaran rata-rata hanya berukuran 1,5 meter.

Untuk itu, para pedagang meminta ukuran los bisa diperluas, minimal untuk bagian muka dasaran adalah 2 m. Ketua P3B, Jafar, mewakili para pedagang mengungkapkan dengan kondisi los yang terlalu sempit, dikhawatirkan akan membuat pedagang dan pembeli tidak nyaman saat bertransaksi nantinya.

“Terutama kalau bagian depan dasaran terlalu sempit, pedagang khawatir tidak nyaman baik untuk pedagang sendiri ataupun para pembeli,” ungkap Jafar ketika ditemui wartawan seusai pertemuan tersebut, Senin.

sry

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…