Minggu, 13 Desember 2009 20:23 WIB Sragen Share :

Puluhan rumah di Sidoharjo terancam banjir

Sragen (Espos)–Puluhan rumah di sembilan dukuh di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen terancam banjir dan terkikis aliran sungai Bengawan Solo, lantaran berada sekitar tiga meter dari bibir sungai itu. Sebagian kecil warga sempat mendapatkan bantuan dari pemerintah pascabanjir awal tahun 2009 lalu.

Sebagian besar kepala keluarga (KK) di desa itu tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk menggeser rumah dan sebagainya. Kendati demikian pemerintah desa setempat masih mengupayakan bantuan bagi KK yang terancam banjir melalui Pemerintah Kecamatan Sidoharjo.

Kepala Desa Sribit, Sidoharjo, Sutimin saat ditemui Espos, Minggu (13/12), di rumahnya, mengatakan, sedikitnya 20 rumah sudah mendapatkan bantuan masing-masing Rp 3 juta/rumah dan sebanyak tiga rumah mendapatkan bantuan Rp 10 juta/rumah melalui program bedah rumah. Menurut dia, puluhan rumah lainnya masih belum mendapatkan bantuan, namun untuk pendataannya diserahkan kepada Ketua RT atau Kadus setempat.

Sekretaris Desa Sribit, Suparno menambahkan, setidaknya ada sembilan dukuh yang berada di sepanjang aliran Bengawan Solo yang masuk wilayah Desa Sribit. Kesembilan dukuh itu terdiri atas Dukuh Ngagel, Semen, Gunung, Wijon, Sribit, Sermo, Tambak, Newung dan Sembukan. Jumlah KK yang belum menerima bantuan masih banyak, masing-masing dukuh ada yang lima KK atau sampai 15 KK.

“Harapan mereka tetap ingin mendapatkan bantuan seperti warga lainnya yang terletak di lokasi yang sama. Namun apa boleh buat, hanya sejumlah nama yang tercatat di kecamatan yang mendapatkan bantuan itu. Pascabanjir lalu, kami sudah mendata jumlah KK yang tinggal di radius tiga meter dari bibir sungai dan sudah diserahkan ke kecamatan. Entah mengapa yang dapat bantuan tidak semua KK?” imbuhnya.

Salah seorang warga di Dukuh Cermo RT 11, Desa Sribit, Sukimin, 55, saat ditemui Espos, Minggu, menanyakan, adiknya saja mendapatkan bantuan, mengapa dia tidak mendapat bantuan? Menurut dia, lokasinya sama di pinggiran Bengawan Solo.

“Saat musim penghujan, air bisa sampai atas bahkan hampir masuk rumah. Rumah ini semula cukup jauh dari bibir sungai, sekitar 10 meter lebih, namun sekarang rumah ini terletak kurang tiga meter dari bibir sungai. Hal ini jika dibiarkan lama-lama aliran sungai bisa mengenai rumah saya. Saya berharap masih ada kepedulian dari pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Sragen, Wangsit Sukono, mengaku, lantaran daerahnya merupakan aliran sungai Bengawan Solo, maka persoalan itu bukan tanggung jawab Pemkab Sragen, melainkan masuk wewenang Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di Solo.
trh

lowongan pekerjaan
PT. JATIM BROMO STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…