Sabtu, 12 Desember 2009 02:50 WIB Solo Share :

Tanah bantaran dipatoki, warga gruduk kantor kelurahan

Solo (Espos)--Pro kontra relokasi di tanah bantaran Semanggi Pasar Kliwon rupanya membuat suasana di kawasan tersebut rentan konflik. Gara-gara tiang tapal batas (patokan) menancap di tanggul, puluhan warga bantaran langsung tersulut emosinya.
Mereka pun menggeruduk Kantor Kelurahan untuk meminta pertanggungjawaban atas pemasangan patok yang mereka nilai sebagai bentuk intimidasi.

Informasi yang dihimpun Espos, kericuhan warga bantaran Semanggi meletus Kamis (10/12) petang hari sekitar pukul 18.00 WIB. Pemicunya ialah adanya sejumlah warga yang kaget setelah melihat tiga tiang tapal batas yang terpasang di atas tanggul.
Parahnya lagi, tiang tapal batas yang menancap dari Jembatan Mojo hingga ke perbatasan Sangkrah itu mengarah ke barat alias bukan ke tanah bantaran. Kabar itu pun langsung tersebar dari telinga ke telinga puluhan warga bantaran.

Bahkan, anggota Komisi III Abdullah AA juga turun langsung ke tanah bantaran untuk mengecek kabar tersebut. Sekitar pukul 18.00 WIB, sebanyak 50-an warga pun menggeruduk langsung ke kantor kelurahan untuk meminta penjelasan terkait hal itu. “Ini kami anggap sebagai intimidasi. Karena, dengan pemasangan patokan ini, tanah kami artinya tak diakui sebagai tanah resmi,” ujar Ketua RT 05/ RW III Kelurahan Semanggi, Agus Sumaryawan kepada Espos, Kamis (10/12).

Kedatangan warga Semanggi tersebut ditemui langsung Lurah Semanggi Agus Santoso serta Ketua LPMK yang juga Ketua Pokja relokasi, Suparno. Beruntung, emosi warga bisa diredam setelah lurah memberikan penjelasan. Dan pertemuan pun berlangsung amat singkat.

Selain para RT juga tengah menggelar pertemuan di kantor kelurahan, pemasangan tiang tapal batas tersebut ternyata terjadi kekeliruan teknis. “Semula warga tak percaya bahwa itu sekadar kesalahan teknis. Bagaimana mungkin pemasangan batas wilayah kok keliru,” ujar Umi salah satu warga.

Warga lainnya, Suryanto menambahkan bahwa tapal batas wilayah tersebut akan diperbaiki arahnya. Meski demikian, katanya, warga masih belum yakin apakah hal itu benar-benar kesalahan teknis atau memang ada unsur kesengajaan. Pasalnya, kejadian serupa sebelumnya juga pernah terjadi di tanah bantaran.

Saat itu, salah satu utusan petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) nyaris disandera warga lantaran membabat pohon dan tanaman di bantaran. Namun, niat petugas BBWSBS untuk mengecek kekuatan tanggul malah menyulut kemarahan warga.

asa

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…