Jumat, 11 Desember 2009 14:41 WIB Internasional,Kesehatan Share :

Ilmuwan Prancis temukan virus raksasa baru

Beberapa ilmuwan di Prancis telah mengisolasi satu virus raksasa baru yang bersembunyi di dalam amuba dan yang kumpulan gennya meliputi bahan genetika dari spesies lain.

Virus tersebut adalah bentuk virus yang sepenuhnya baru. Demikian disampaikan Didier Raoult, pemimpin penelitian penyakit menular dan tropis yang baru muncul di “Aix-Marseille 2 University” di Prancis.

Genome itu, yang disebut Marseillevirus, meliputi daftar rumit gen yang sangat berbeda dengan DNA dari bentuk virus lain dan memperlihatkan ada pertukaran genetika antara mikro-organisme lain seperti satu virus raksasa dan bakteri yang ditemukan pada amuba.

Amuba, bentuk kehidupan bersel tunggal yang dapat menjadi parasit baik pada manusia maupun hewan, bertindak sebagai satu jenis ayunan bagi terciptanya bakteri dan virus baru.

Hanya sejumlah kecil apa yang disebut virus raksasa telah ditemukan, pertama pada 1993 secara tak sengaja. Tidak seperti virus klasik, virus tersebut dapat dilihat melalui mikroskop cahaya konvensional.

Bahkan sekarang nyaris tak ada yang diketahui mengenai virus itu tapi pada 2008, satu tim yang dipimpin oleh Raoult bahkan menemukan beberapa virus yang menulari virus lain sehingga dapat menggandakan diri mereka, katanya.

Dengan satu genome yang terdiri atas 368.000 pasangan dasar, Marseillevirus adalah virus terbesar kelima yang pernah dirangkaikan dan memiliki diameter 250 nanometer (sekitar 250 per juta milimeter), menurut laporan oleh Raoult buat Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).

DNA virus raksasa tersebut terdiri atas bahan dari beberapa sumber yang berbeda termasuk dari tanaman dan hewan, bakteri dan virus raksasa lain seperti Mimivirus, kata laporan itu.

“Ada mekanisme penciptaan permanen yang terjadi pada amuba sehingga menghasilkan daftar virus baru dan virus raksasa yang memberi pengaruh untuk menjadi patogen segera setelah semua virus tersebut mengkhususkan diri,” kata Raoult.

Ia mengatakan mekanisme itu tak diramalkan di dalam teori Charles Darwin bahwa hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama.

“Pendapat mengenai nenek moyak bersama tak masuk akal sehubungan dengan virus,” katanya.

“Itu adalah pendapat Darwin, tapi ia jelas-jelas keliru,” tambah Raoult.

ant/isw

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…