Kamis, 10 Desember 2009 07:16 WIB Solo Share :

Dewan Solo pangkas alokasi anggaran pengadaan bus tingkat wisata


Solo (Espos)-
-Komisi III DPRD Solo menolak rencana Pemerintah Kota (Pemkot) mengadakan bus tingkat untuk wisata kota. Selain itu, alokasi anggaran yang semula Rp 4 miliar, dikurangi menjadi Rp 2 miliar.

Anggota Komisi III, Abdullah AA mengatakan pada prinsipnya rencana pengadaan bus wisata tersebut bisa diterima. Namun bentuk bisnya tidak harus tingkat. “Sesuai hasil pembahasan di Komisi III, anggaran untuk bis wisata dikurangi Rp 2 miliar. Dan bentuk bisnya menjadi tidak tingkat,” terangnya ketika ditemui Espos, di ruang Komisi III DPRD, Selasa (8/12).

Pengurangan anggaran dan perubahan desain bus wisata itu, dilatarbelakangi beberapa pertimbangan. Penggunaan bus tingkat dirasakan tidak didukung kondisi sarana prasarana jalan dan kondisi lalu lintas di Solo. Bukan hanya ketika beroperasi dan melintas di jalan raya, tetapi juga ketika harus berhenti atau parkir.

Selain itu, persoalan maintenance atau pemeliharaan bus juga menjadi salah satu alasan ditolaknya desain bus tingkat tersebut. “Apakah Pemkot mampu merawat bus tingkat itu. Prinsipnya kami sepakat, karena multi efeknya bagi perekonomian Solo. Tetapi kondisi di lapangan tidak memungkinkan bus tingkat itu beroperasi,” papar Abdullah.

Sekretaris Komisi III, Umar Hasyim menambahkan desain bus wisata itu perlu ditelaah lebih lanjut oleh dinas terkait. Tak hanya soal pengoperasian, tetapi juga terkait dengan ketentuan tarif, rute dan hal-hal lainnya.

Ada banyak hal yang harus benar-benar diperhatikan Dinas Perhubungan dalam rencana pengadaan bus wisata ini. Umar menambahkan tak hanya soal pengoperasian maupun tarif dan rute, tetapi masih ada hal lain yang harus dipertimbangkan dan direncanakan dengan matang agar kelak tidak mangkrak atau tidak optimal.

Umar menyebutkan perencanaan harus mengkalkulasi tentang umur kendaraan atau bus yang akan digunakan. Selain itu, perlu diperhatikan pula perhitungan break event point (BEP) atau jangka waktu yang dibutuhkan agar modal kembali.

“Dan yang tidak kalah penting yaitu, bagaimana kajian multiplier efeknya bagi masyarakat maupun perekonomian Kota Solo,” papar Umar.

iik

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…