Rabu, 9 Desember 2009 08:57 WIB Ekonomi Share :

Eskpor Soloraya November membaik


Solo (Espos)–
Realisasi ekspor Soloraya bulan November mulai menunjukkan peningkatan baik volume maupun nilainya, meskipun belum signifikan. Kendati demikian, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi, tahun 2010 akan menjadi tahun yang berat bagi dunia tekstil.

Hal ini disampaikan API, melihat adanya penurunan volume dan nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT), jika dibandingkan komoditas lain yang rata-rata mengalami kenaikan volume ekspor pada November. Berdasarkan data surat keterangan asal (SKA) yang diterima Espos dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Solo, Rabu (9/12), realisasi ekspor Soloraya bulan November mencapai volume 7.863.529,55 kilogram dengan nilai US$ 26.226.148,51. Atau mengalami kenaikan dari realisasi Oktober, yakni 7.769.914,21 kilogram dengan nilai US$ 26.132.365,57.

Beberapa komoditas utama Soloraya, sebut saja batik dan mebel, mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Batik Solo, naik dari 29.112,85 kilogram dengan nilai US$  525.177,10 menjadi 34.056,21 kilogram dengan nilai US$ 586.896,93.

Begitu pula mebel, yang mengalami kenaikan volume ekspor dari 1.727.260,28 kilogram menjadi 2.349.305,72 kilogram dengan nilai US$ 3.259.089,08 menjadi US$ 4.297.563,52. Tingginya ekspor mebel, dinilai didominasi dari realisasi penundaan penjualan bulan sebelumnya. Ketua Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Soloraya, David R Wijaya menyampaikan, ekspor mebel akan memperlihatkan tren yang jelas dan akan lebih baik di tahun 2010.

Sementara, Wakil Ketua API Jateng, Djoko Santoso menyampaikan, penurunan volume dan nilai ekspor TPT sudah menjadi perilaku rutin pasar, di mana semester II selalu terjadi penurunan ekpsor. “Tahun 2009 ini, buyer dan juga industri, sudah menggenjot secara maksimal produksinya pada awal semester II. Di mana, waktu itu bertepatan dengan momen Lebaran. Setelah itu, produksi akan tertahan,” tutur Djoko.

Menurutnya, pasar TPT luar negeri tidak menurun. Hanya saja, lanjutnya, pemenuhan pasar untuk akhir tahun sudah terpenuhi sebelumnya. “Jadi, season juga berpengaruh. Awal triwulan IV memang sudah terlihat ada penurunan.”

Djoko menjelaskan, kendati siklus produksi TPT seperti itu, API justru memprediksi di mana tahun 2010 akan menjadi tahun yang berat bagi dunia tekstil. Hal ini tidak lepas dari perjanjian perdagangan bebas yang sudah disepakati ASEAN dan Negara China dalam Free Trade Agreement (FTA), di mana FTA direncanakan akan diberlakukan 2010.

“Produk China akan membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih bersaing. Industri tekstil dalam negeri merasa belum siap dengan pasar bebas. Karena, recovery pascakrisis global Indonesia lebih lambat dari negara-negara lain di ASEAN.”

haw

Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…