Selasa, 8 Desember 2009 21:05 WIB Boyolali Share :

Praktik penggelonggongan hewan di Boyolali masih marak

Boyolali (Espos)–Praktik penggelonggongan hewan hingga kini masih terjadi di Kabupaten Boyolali. Hal tersebut terbukti saat Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah peternak dan rumah pemotongan hewan (RPH) di wilayah itu, Senin (7/12).

Saat Sidak tersebut, tim Disnakkan menangkap basah para pelaku praktik penggelonggongan sapi di Dukuh Klarisan, Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

“Dari Sidak yang kami lakukan kemarin (Senin (7/12)-red), tim menemukan terjadi praktik penggelonggongan hewan di dua tempat di wilayah Dukuh Klarisan, Desa Tanduk, Kecamatan Ampel.
Praktik penggelonggongan terjadi di dua tempat yakni di tempat Warso, praktik penggelonggongan dilakukan terhadap lima sapi dan di tempat Naryo, praktik penggelonggongan dilakukan terhadap tujuh sapi,” ungkap Kepala Disnakkan Boyolali, Dwi Priyatmoko ketika ditemui wartawan di sela-sela Peresmian Pasar Kota Boyolali di Pasar Kota Boyolali, Selasa (8/12).

Namun Dwi menegaskan daging yang dipotong dari hewan yang digelonggong tersebut masih merupakan daging segar yang layak untuk dikonsumsi.

“Karena baru proses penggelonggongan, daging sapi yang dipotong dari sapi-sapi tersebut masih sehat dan segar sehingga layak untuk dikonsumsi,” terangnya.

Menyikapi masih adanya praktik penggelonggongan hewan tersebut, Dwi menegaskan Disnakkan Boyolali dan juga sejumlah pihak yang terkait, termasuk aparat penegak hukum, berkomitmen untuk meningkatkan dan memperketat pengawasan terhadap peternak maupun RPH di wilayah itu.

Terhadap para pelaku praktik penggelonggongan hewan tersebut, Disnakkan mengatakan tim Sidak melakukan tindakan tegas dengan memberikan peringatan agar menghentikan praktik penggelonggongan tersebut.

sry

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…