Selasa, 8 Desember 2009 20:34 WIB Internasional Share :

Mahathir usulkan buku sejarah bersama Indonesia-Malaysia

Kuala Lumpur–Hubungan Indonesia-Malaysia tidak selalu berlangsung harmonis. Seringkali hubungan yang sudah dijalin lama ini diterpa berbagai isu. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohammad menilai kekisruhan yang sering melanda hubungan Indonesia-Malaysia disebabkan generasi muda baru kedua negara yang mudah menyerap berbagai persoalan secara subjektif.

Diantara mereka banyak tidak memahami sejarah Indonesia-Malaysia secara utuh. Karena itu, menurut tokoh yang disebut sebagai Bapak Pembangunan Malaysia ini, perlu adanya kerjasama pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk membuat buku sejarah bersama.

“Perlu diselaraskan buku sejarah Indonesia-Malaysia agar generasi baru kedua negara memahami sejarah perjuangan masing-masing,” kata Mahathir dalam Seminar Indonesia-Malaysia di Convention Center Hall 1 KLCC, Kuala Lumpur, Malaysia (8/12).

Mahathir mengatakan, kebanyakan generasi baru (new generation) terutama di Malaysia yang buta sejarah perjuangan negaranya. Menurutnya, mereka hanya memahami bahwa kemerdekaan sudah menjadi hak Malaysia tanpa mengetahui jalan sejarah perjuangannya.

“Meski di sejarah Malaysia tidak banyak peperangan seperti Indonesia, tapi Malaysia juga pernah mengalami peperangan sebelum merdeka.Ini yang tidak dipahami mereka. Sehingga ketika muncul isu menyangkut Indonesia-Malaysia, mereka pun mudah terbawa emosi,” jelasnya.

Lebih jauh Mahathir menguraikan, sejarah yang harus dipahami oleh generasi baru kedua negara juga meliputi sejarah bahwa awalnya Indonesia dan Malaysia adalah satu bangsa yang tidak terpisahkan. Kedatangan Belanda yang menjajah Indonesia dan Inggris yang menjajah Malaysia menjadi awal yang memisahkan bangsa serumpun ini.

“Hubungan Indonesia-Malaysia bagaimanapun love in relationship. Apapun yang terjadi tetap harus bersama, karena keduanya pada dasarnya punya tujuan dan identitas yang sama. Indonesia dan Malaysia ini adalah satu keluarga,” cetus dia.

Karena itu, di era kepemimpinannya, lanjut Mahathir, Malaysia memberi kemudahan kepada setiap orang Indonesia yang datang sampai kemudahan untuk mendapat pengakuan kewarganegaraan. Kebijakan tersebut, kata dia, berangkat dari sejarah bahwa sudah sejak dahulu orang-orang di kepulauan Indonesia terbiasa berkunjung ke semenanjung dengan berbagai tujuan serta diterima dengan sangat baik oleh raja-raja Melayu.
 
“Mereka berbeda dengan India dan China yang menjadi pendatang. Tetapi orang-orang Indonesia ini bukan pendatang. Raja-raja melayu tidak pernah menganggap orang India dan China sebagai orang Melayu, tapi pendatang,” tegasnya.

“Jadi secara tidak langsung, perpisahan ini antara Indonesia-Malaysia hanya artifisial, bukan natural. Tapi apaun kenyataannya diterima,” pungkas Mahathir.

 

dtc/tya

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…