Selasa, 8 Desember 2009 22:56 WIB Sukoharjo Share :

Bahas Pansimas akan dilanjutkan, warga Cemani-panitia nyaris bentrok

Sukoharjo (Espos)–Belasan warga Cemani, Grogol terus berjaga di lokasi sumur dalam yang merupakan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) lantaran mereka mendengar kabar bahwa program tersebut akan dilanjutkan.

Sementara itu, pertemuan antara warga Cemani dengan panitia Pamsimas di lokasi pembangunan ricuh. Kedua kelompok nyaris bentrok ketika anggota komisi IV, M Samrodin datang ke tempat kejadian untuk melakukan pantauan.

Berdasar pengamatan, ketika datang ke lokasi sekitar pukul 12.30 WIB, kedatangan M Samrodin diterima oleh sejumlah warga. Perwakilan warga, Taryono mengatakan, mereka tidak membutuhkan program Pamsimas yang diwujudkan dalam bentuk pembangunan sumur.

“Warga tidak membutuhkan sumur dalam sebab kebutuhan air bersih di lingkungan kami melimpah. Bohong apabila ada yang mengatakan warga kekurangan air bersih,” jelasnya kepada anggota dewan, Selasa (8/12).

Hal senada diungkap warga lain, Wardi. Terkait rencana pembangunan sumur dalam, Taryono mengatakan, bukannya membantu sebaliknya justru membuat warga cemas. Pasalnya, ada kekhawatiran sumur itu akan mengganggu air dalam milik warga di sekitar lokasi sumur.

“Kami terus terang cemas dengan warga yang tempat tinggalnya ada di radius 500 meter dari sumur. Mereka itu adalah warga RW XV, XIII, XVI. Harusnya pemerintah membicarakan dulu rencana pembangunan ini dengan warga, bukan sebaliknya langsung asal bangun saja,” tandasnya.

Sementara warga melakukan dialog dengan anggota dewan di lokasi pembangunan, sejumlah panitia Pamsimas memilih berjaga di seberang lokasi. Mereka terus melakukan pantauan namun tidak pernah mendekati lokasi pembangunan.

Ketika Samrodin meminta konfirmasi kepada panitia Pamsimas, mereka menolak dengan alasan informasi seharusnya dari satu pintu yaitu lurah secara langsung. Tujuannya agar pemberian informasi tidak sepotong-sepotong.

Begitu mendengar permintaan panitia, sontak semua warga menolak. Warga tidak ingin pertemuan dilakukan di kelurahan lantaran mereka menilai hal itu merupakan salah satu upaya kelurahan menekan atau sebaliknya menyogok mereka. Karena masing-masing pihak ngotot, adu argumentasi pun tak terhindarkan.

Samrodin mengatakan supaya adil pertemuan antara warga, panitia, kelurahan maupun sejumlah dinas terkait dilakukan di Gedung Dewan. “Hari ini (kemarin-red) saya sudah mendapat masukan yang cukup. Jadi untuk mencari solusi, sebaiknya dilakukan di Gedung Dewan,” tandasnya yang kemudian bisa diterima semua pihak.

aps

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…