Minggu, 6 Desember 2009 19:07 WIB Solo Share :

"Relokasi rentan konflik horizontal"

Solo (Espos)–Seratusan warga bantaran yang tergabung dalam Solidaritas Korban Banjir Bantaran (SKoBB) menyatukan tekad menentang relokasi. Alasan mereka, relokasi bakal menceraiberaikan tatanan kehidupan warga bantaran yang selama bertahun-tahun ini sudah tertata.

“Satu tekad kita, bersatu menolak relokasi!” pekik Koordinator SkoBB, Agus Sumaryawan dalam acara Forum Rakyat Bicara di tengah-tengah lapangan Losari Semanggi Pasar Kliwon, Minggu (6/12). Acara yang bertema Relokasi: Bencana atau Berkah tersebut dihadiri lebih seratusan warga bantaran Kelurahan Sangkrah dan Semanggi, pegiat LSM, serta para saksi warga bantaran Kali Code Yogyakarta.

Sedianya, acara itu juga mengundang para anggota Dewan Solo. Namun, warga bantaran terpaksa kecewa lantaran hanya dihadiri satu anggota dewan yang maju dari Partai Hanura, Abdullah AA. Kehadiran anggota dewan yang maju dari Dapil Pasar Kliwon dan Serengan tersebut juga menjadi ajang mencari dukungan.

Bahkan, Abdullah AA dalam pernyataannya meminta warga bantaran agar bersatu padu melawan segala kesewangan-wenangan yang dilakukan Pemkot Solo selama ini atas warga bantaran. Sebagai wakil raykat sekaligus warga, tegas AA, dirinya menolak rencana relokasi bagi warga bantaran.

Pembicara lainnya, Widodo juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, relokasi yang tengah dicanangkan Pemkot Solo bagi warga bantaran bersertifikat hanya akan menyisakan sekian persoalan pelik di masa mendatang. Di antaranya ialah persoalan akses pekerjaan baru, akses sosial, budaya, keamanan, intrik politik, serta keamanan.

“Dan yang harus diwaspadai, relokasi rentan konflik horisontal. Dengan kompensasi yang tiap warga berbeda, maka warga bisa terpecah. Dan ini bisa dijadikan celah ajang adu domba antar warga,” paparnya.

 

asa

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…