Minggu, 6 Desember 2009 01:30 WIB Issue Share :

Masyarakat Solo nge-jaz di Pasar Windujenar

Musik adalah media universal untuk menyatukan perbedaan. Hal ini terbukti dalam perhelatan Solo City Jazz 2009 bertema Jazz Up Batik pada hari kedua, Sabtu (5/12).
Meskipun diguyur air hujan hampir separuh pertunjukan, namun semangat wong Solo untuk menikmati irama musik jaz tidak surut. Justru semakin berdatangan memadati halaman Pasar Windujenar, koridor Pasar Ngarsopuro Solo.
Bahkan busana batik pun menjadi bahasa tersendiri untuk menyatukan perhelatan tersebut. baik musisi maupun pengunjung mengenakan dresscode batik.
Gairah jaz sangat terasa saat Heaven on Earth, grup musik jaz dari Ibukota menggebrak dengan dua nomor yang cukup memukau ribuan penonton, satu nomor easy listening jaz dan satu nomor dengan karakter jaz yang cukup kompleks dengan birama ganjil berjudul Buends Diaz Micielo. Nomor terakhir sangat menyentuh perhatian pengunjung karena diselingi dengan lirik-lirik pendek beraroma cinta.
”Jaz itu bisa disajikan dengan sederhana maupun rumit, tergantung selera dari easy listening sampai comtemporary fussion. Untuk Buends Diaz Micielo memang sudah kompleks, itu contemporary fussion,” ungkap Tedjo Bayu Aji, keybordist Heaven on Earth saat ditemui Espos seusai manggung.
Sepanjang pertunjukan grup musik dengan formasi Tedjo Bayu Aji (keyboardist), Franky Sadikin (bass) dan Ossa Sungkar (drum) tersebut juga memainkan irama-irama fussion kontemporer yang cukup rumit. Namun tetap enak dinikmati.
Tak cukup Heaven on Earth saja, perhelatan musik paling bergengsi di pengujung tahun 2009 di Kota Bengawan tersebut juga dihangatkan lagi dengan penampilan Pribumi Jazz Etnik dari Kota Gudeg.
Agus Bing dan Pribumi Jazz Etnik ini mengusung tiga nomor jaz berjudul Journey, Gambang Suling dan Bedol Prahu Layar dengan irama jaz fussion yang menggabungkan alat musik etnik gamelan, kendang dengan alat musik modern. Kehadiran Donny Koeswinarno Jazz Quarted dan Clorophyl pun semakin menghangatkan suasana.

Mencari konsep
Sebelumnya dua kelompok musik jaz lokal, Solo Society Jazz dan Temperente mengantarkan masyarakat Kota Solo menikmati musik jaz lewat lagu Gundul-Gundul Pacul dan satu nomor jazz fussion dengan irama rancak yang kaya akan perkusi. Puncaknya Yovie Fussion tampil memikat lewat beberapa instumentalia jazz fussion, diantaranya Semalam di Tunisia.
Menurut Heru Prasteya, salah satu panitia Solo City Jazz 2009, perhelatan tersebut akan diupayakan menjadi agenda tahunan Kota Solo. ”Solo sedang mencari konsep. Ini tidak semata-mata pertunjukan musik jaz tapi suatu upaya menyatukan kawasan Pasar Windujenar dengan pertumbuhan kota,” jelas Heru.
Upaya memasyarakatkan musik jaz agar bisa dinikmati semua kalangan telah diawali sejak lama. Lewat Explo Jazz tahun 2006. Hingga sosialisasi ke pasar-pasar tradisional lewat Jazz in Sar Gede dan Jazz in Sar Kembang tahun 2007 silam. ”Jaz pun tetap bisa disajikan tanpa dengan biaya yang mahal. Yang penting bagaimana mendekatkan jaz untuk semua kalangan. Salah satunya mengadakan pertunjukan jaz di pasar tradisional.

Eri Maryana

lowongan pekerjaan
SOCIAL KITCHEN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Karanganyar Makin Beradab

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/11/2017). Esai ini karya Imam Subkhan, Ketua RT 001/RW 019, Jaten, Karanganyar. Alamat e-mail penulis adalah imamsubkhan77@gmail.com.   Solopos.com, SOLO–Sepulang sekolah, anak mbarep saya, Nadhifa, yang sekarang duduk di kelas IV sekolah dasar di…