Kamis, 3 Desember 2009 11:55 WIB News,Ekonomi Share :

Produksi emas Freeport 2010 bakal turun 30,3%

Jakarta–Produksi emas PT Freeport Indonesia tahun 2010 diprediksi turun hingga 30,3 persen menjadi 1,941 juta troy ounces dibanding tahun ini sekitar 2,785 juta troy ounces.

Kondisi serupa juga terjadi pada produksi tembaga tahun depan yang diperkirakan akan menurun sekitar 10.7 persen dari  1,596 miliar pounds di tahun ini menjadi 1,424 miliar pounds tahun depan.

“Produksi turun depan, kami perkirakan  akan mengalami  menurun dibandingkan tahun 2009,” ujar Presiden Direktur Freeport Indonesia Armando Mahler dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/12) malam.

Freeport merencanakan pemrosesan bijih di pabrik pengolahan sebanyak 235.000 ton per hari dengan kadar tembaga 0,9 persen dan emas 0,9 gram per ton. Bijih tersebut berasal dari tambang terbuka Grasberg sebanyak 155.000 ton per hari dan bawah tanah DOZ 80.000 ton per hari.

Hasil pengolahan bijih ini akan menghasilkan konsentrat dengan kadar tembaga rata-rata 26,5 persen dan kadar emas 24,7 gram per ton.

Juru bicara Freeport Indonesia, Mindo Pangribuan menambahkan, setelah tahun 2015 tambang di Freeport akan berubah  menjadi tambang bawah tanah.

“Dengan cadangan yang ada, setelah 2015 akan lebih ekonomis dengan tambang bawah tanah,” ungkapnya.

Status cadangan terbukti bijih per 31 Desember 2008 sebanyak 2,66 miliar ton dengan kadar tembaga rata-rata 1,01 persen, kadar emas rata-rata 0,89 gram/ton, dan kadar perak rata-rata 4,26 gram/ton.

Sementara itu, jumlah kandungan logam secara keseluruhan terdiri dari tembaga sebanyak 59,3 miliar pounds, emas sebanyak 76,1 juta troy ounces dan perak sebanyak 365,3 juta troy ounces. Cadangan terbukti ini terdiri dari Grasberg, DOZ/Ertsberg Stockwork Zone, Deep Mill Level Zone, Big Gossan, dan Kucing Liar.

Saat ini, sebanyak 41 persen dari total konsentrat yang dihasilkan buat memenuhi kebutuhan domestik. Sisanya, diekspor ke Swedia, Jerman, Finlandia, Bulgaria, China, Filipina, Korea, India, Jepang, dan Spanyol.

Mindo juga mengatakan, Freeport juga berniatn membangun pabrik semen di Timika, Papua dengan nilai investasi sebesar US$ 100 juta. Saat ini proyek tersebut masih dalam uji kelayakan dan diharapkan pembangunannya bisa selesai pada tahun 2011.

“Kami menyediakan dana US$ 100 juta dolar untuk pembangunan pabrik semen ini,” ujarnya.

Mindo berharap keberadaan pabrik semen ini dapat memenuhi kebutuhan semen untuk proyek-proyek di Freeport, dan juga  mendukung penyediaan semen untuk pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua, khususnya di Mimika.

Pada kesempatan yang sama, Armando menyatakan perusahaan asal Amerika tersebut saat ini tengah mempertimbangkan untuk listing di Bursa Efek Indonesia.

“Kami sedang mempertimbangkan untuk segera listing di bursa Indonesia,” ungkap dia.

Terkait rencana minat Pemerintah Provinsi Papua untuk membeli saham Freeport, Ia menyatakan hingga saat ini hal itu masih dalam tahap negosiasi. Rencananya, Pemprov Papua akan membeli 9,36 persen saham Freeport yang sebelumnya dimiliki Indocopper Investama. Namun hingga saat ini pihak freeport masih belum mendapatkan kepastian berapa persen dari saham itu yang akan dibeli oleh Pemprov Papua.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…