Kamis, 3 Desember 2009 20:24 WIB Solo Share :

Dengan penuh kesabaran, Sabar panjat gedung tertinggi di Jateng

Solo (Espos)–Ditopang dengan kruk di kaki kanannya, atlet difabel panjat tebing asal Solo, M Sabar, 41, berjalan mantap diiringi istri dan putrinya menuju sisi barat depan gedung apartemen Solo Paragon, Kamis (3/12).
Sejumlah alat dipasang pada tubuhnya yang saat itu mengenakan kaus warna merah dipadu dengan celana jeans warna hitam.

Tangannya sudah siap memegang jumar dengan ditopang satu kaki menjejak di lantai. Sesaat kemudian Sabar mulai melakukan aksinya memanjat Solo Paragon yang disebut-sebut sebagai gedung tertinggi di Jawa Tengah ini dengan menggunakan teknik jumaring.

Saat Sabar berjuang menaklukkan puncak Paragon, wajah Novalia Eka Sadriani, 8, tampak tegang melihat aksi ayahnya yang bergelantungan di atas. Beberapa kali Novalia melepaskan topi kotak-kotaknya untuk melihat ke atas. Berada di sampingnya, sang ibu, Leni Indria, 31, yang tak kalah tegangnya.

Peraih medali emas kejuaraan panjat tebing Asian Championship 2008 di Chuncheon, Korea Selatan, mulai melesat naik tanpa kesulitan berarti dalam aksinya yang bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Cacat se-Dunia. Angin sepoi-sepoi membuat pria kelahiran 9 September 1968 ini semakin enjoy terus baik ke puncak gedung 25 lantai dengan ketinggian 84 meter ini.

Sampai di lantai 23, dengan tubuhnya yang masih bergelantungan, tiba-tiba Sabar berhenti lalu menari-nari. Tangannya bergerak-gerak sambil menyanyikan sebuah lagu dari penyanyi legendaris Iwan Fals berjudul Lagu Pemanjat dengan diiringi musik live.

Selesai menyelesaikan Lagu Pemanjat, Sabar yang kehilangan kaki kanannya karena terjatuh dari gerbong kereta api jurusan Jakarta-Solo pada tahun 1989 tersebut kembali melanjutkan aksinya memanjat menuju puncak. Tepukan tangan penonton dari bawah pecah begitu sabar mencapai puncak gedung, lalu dia memotong sebuah tali yang mengikat puluhan balon berwarna-warni. Sesaat kemudian, Sabar menarik gulungan banner berukuran jumbo. Terpampang sebuah tulisan yang dicetak besar “DIFABEL MEMBERI BUKTI”.

“Ya ini sebagai bukti seorang difabel. Meski dengan kekurangan yang ada, difabel mampu bekerja di ketinggian. Difabel mampu bekerja di segala bidang, asalkan memiliki kemauan dan pantang menyerah, semuanya bisa dilakukan,” ungkap Sabar mengenai arti di balik kata-kata dalam banner tersebut.
anh

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…