Rabu, 2 Desember 2009 23:23 WIB Karanganyar Share :

Pembangunan Klaster Dayu butuh lahan 6.850 m2


Karanganyar (Espos)-
-Rencana pembangunan Klaster Dayu di wilayah Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, sebagai pusat penelitian kehidupan zaman purba membutuhkan lahan seluas hampir 7 hektare atau tepatnya 6.850 m2.

Namun, hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar selaku penyedia lahan baru mampu membebaskan lahan seluas 2 hektare untuk tahap awal pembangunan klaster yang masuk kawasan situs Sangiran itu.

Hal itu terungkap dalam acara sosialisasi pengelolaan dan pengembangan Situs Sangiran sebagai warisan budaya dunia, yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karanganyar bersama Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Pendapa Rumah Dinas Bupati setempat, Rabu (2/12).

Disampaikan Harry Widianto dari BPSMP Sangiran, dalam bidang kepariwisataan dan sajian informasi direncanakan untuk mengembangkan klaster yang meliputi tiga klaster di kawasan Sangiran utara dan satu klaster di kawasan Sangiran selatan, yaitu Klaster Krikilan, Klaster Ngebung, Klaster Bukuran dan Klaster Dayu.

“Klaster Krikilan merupakan <I>visitor centre<I> atau pusat kunjungan yang saat ini sudah 80% selesai dibangun. Pada klaster ini terdapat kantor BPSMP Sangiran dan Museum Sangiran sebagai pusat informasi peradaban kehidupan manusia purba,” terangnya.

Sementara, Klaster Ngebung merupakan titik tertinggi trianggulasi yang dapat melihat keseluruhan kawasan Situs Sangiran. Menurut Harry, kawasan ini mengandung empat jenis lapisan tanah yang berpotensi menghasilkan temuan fosil manusia, binatang dan alat batu, yaitu lapisan lempung hitam Pucangan, Grenzbank, Pasir Fluvio-Vulkanik Kabuh, dan Pasir vulkanik Notopuro. Daerah ini juga merupakan lokasi penemuan alat batu yang pertama di Sangiran tahun 1934 yang bernilai historis.

Kalau Klaster Bukuran, lanjutnya, merupakan tempat penemuan berbagai macam fosil manusia <I>Homo Erectus<I> dan binatang purba. Kawasan ini mengandung empat jenis lapisan tanah yang potensial akan data arkeologis.

Dijelaskannya, Klaster Dayu direncanakan akan dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata yang dapat memberikan apresiasi kepada pengunjung tentang proses ekskavasi arkeologis yang menghasilkan temuan budaya manusia tertua yang berasal dari kurun 1,2 juta tahun yang lalu. Di kawasan ini terdapat lubang-lubang ekskavasi yang masih terbuka yang memperlihatkan informasi tentang singkapan lapisan grenzbank sampai pucangan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karanganyar, Sutarno, mengatakan sosialisasi ini sebagai upaya penyebarluasan informasi dan sekaligus promosi tentang benda cagar budaya khususnya kawasan Situs Sangiran dan pengelolanya yaitu BPSMP Sangiran.

dsp

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…