Minggu, 29 November 2009 17:24 WIB Ekonomi Share :

Gagal bayar Dubai World, picu krisis global jilid II

Jakarta–Gagal bayar atas surat utang obligasi Dubai World, dapat memicu krisis global jilid II. Jika tidak tertangani dengan cepat, Dubai menjadi negara kedua, setelah Amerika Serikat, yang menjadi pemicu krisis.

“Dampaknya tentu secara global. Bisa saja ini adalah awal dari krisis global jilid II. Jika jilid I dipicu oleh Amerika, maka untuk jilid II ini dari negara-negara berkembang dan dimulai dari Dubai,” terang¬† Ekonom Standart Chartered Fauzi Ichsan saat dihubungi, Minggu (29/11).

Pasar saham Indonesia tentu akan terkena dampak tersebut, lebih khusus pada pasar obligasi di dalam negeri. Untuk sementara, investor asing akan membawa dana mereka ke dollar AS, dan menunggu penanganan kasus Dubai World dalam sepekan mendatang.

“Jika tidak ada pemberitaan yang mengejutkan lagi terkait Dubai World, maka dampak negatif ini hanya bersifat temporary. Jika ternyata ada kasus terkait, bisa saja ini awal mula krisis global jilid II,” tambah Ichsan.

Menurut dia, jika utang Dubai World dapat segera direstrukturisasi maka pasar saham dalam negeri dapat segera rebond. Ia berharap, jangan sampai terjadi cross default atas tunggakkan utang Dubai World. Sebab ini penting untuk menjaga stabilnya pasar saham dan obligasi korporasi di dunia.

Dalam tiga hari ke depan, Ichsan memprediksi, indeks akan terkoreksi 5-10%. Pada pembukaan perdagangan Senin (30/11) mendatang, IHSG juga akan melihat kondisi pasar regional yang buka terlebih dahulu.

“Kita lihat akan seberapa dalam koreksinya. Kita juga melihat dari perdagangan bursa Jepang dan Hongkong yang buka satu jam sebelum IDX,” pungkasnya.
dtc/tya

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Membumikan Politik Profetik

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Senin (17/7/2017). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.¬† Solopos.com, SOLO–Saya tidak bermaksud berutopia bila dalam esai ini mewacanakan kembali politik profetik. Dalam ranah wacana, politik profetik…