Minggu, 29 November 2009 13:30 WIB News Share :

Antisipasi kisruh kurban, harus ada pengaturan pembagian

Jakarta–Menko Kesra Agung Laksono sangat prihatin atas kekisruhan pembagian daging qurban. Agar tidak terulang, harus ada pengaturan yang benar.

“Terjadinya kekisruhan saat pembagian daging, itu saya lihat tidak hanya di Jakarta, ini membuat keprihatinan tersendiri,” kata Agung dalam perbincangan, Minggu (29/11).

Agung juga menilai perlu koordinasi antara pengelola penyembelihan kurban dengan Pemda dan aparat keamanan. “Ke depan panitia korban harus berkoordinasi dengan pemerintah terkait di level masing-masing yang tahu angka kemiskinan dan aparat keamanan untuk membagikan daging kurban secara tepat sasaran,” lanjut Agung.

Selain koordinasi cara pembagian, untuk tahun selanjutnya harus mengedepankan pendekatan proaktif panitia ke pihak yang menerima daging kurban. Dengan cara itulah, Agung yakin kekisruhan yang telah terjadi tidak akan terulang lagi.

“Bagaimana pun kalau ribuan orang dikonsentrasikan tetap rawan dan potensial ada kekisruhan,” kata Agung.

Kalau tidak mendatangi langsung ke rumah penerima kurban, panitia bisa membentuk titik-titik pembagian qurban. Misalnya membentuk 1 lokasi pembagian untuk 100 orang.

“Jangan seperti sekarang seperti show, penerima harus dikumpulkan,” kata Agung.

Agung menilai kekisruhan kurban dan pembagian sedekah lainnya kan semakin mencoreng citra Indonesia karena seolah-olah angka kemiskinan meningkat. Padahal kejadian ini semata-mata terjadi karena kesalahan koordinasi dan pengelolaan saja.

“Kejadian ini tentu kita sayangkan karena seolah-olah makin banyak rakyat miskin di negeri ini, padahal itu kan karena salah mengelola saja,” tandas Agung.

Agung berharap pembagian sedekah atau qurban di tahun selanjutnya lebih dipikirkan dengan matang. Tidak hanya orang yang berhak menerima tapi juga sistem pembagian dan pengamanannya.

“Intinya agar seluruh ibadah kita, baik sedekah, zakat atau qurban itu diterima oleh yang berhak dan tidak terkesan show. Ke depan harus ada pengaturan yang benar,” tegas Agung.

 

dtc/tya

lowongan kerja
lowongan kerja PBF di sukoharjo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…