Selasa, 24 November 2009 14:16 WIB Kuliner Share :

Menu vegetarian, alternatif menu sehat yang sedap

Mendengar istilah vegetarian, ingatan tentu akan langsung tertuju pada gaya hidup para bikhsu yang menghindari makan daging dan arak demi pengabdian kepada Tuhan. Vegan, sebutan bagi penganut vegetarian, enggan mengonsumsi daging hewan dan produk turunannya. Mereka hanya makan sayur atau makanan olahan dari produk nabati.

Belakangan, vegetarian  justru jadi trend pola makan modern yang sehat. Beberapa selebritas dunia pun dikabarkan mulai menganut pola makan ini. Motif para vegan cukup beragam, ada yang memilih menjalani vegetarian lantaran alasan kesehatan, menyayangi binatang, menghemat pengeluaran uang makan hingga yang kini santer dibicarakan adalah mencegah global warming alias pemanasan global.

Hasil penelitian organisasi pangan dunia milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Food and Agricultural Organization (FAO) tahun 2006 mengungkap fakta industri ternak, untuk memenuhi kebutuhan daging, menyumbang emisi karbondioksida tertinggi yaitu 20%. Angka itu jauh lebih besar ketimbang karbondioksida yang dihasilkan dari seluruh kendaraan bermotor di dunia. Ditambah lagi, pembukaan lahan untuk peternakan juga menyebabkan lahan hijau semakin menipis. Melalui isu lingkungan inilah, banyak orang kian gandrung dengan pola makan ala vegan.

”Menyelamatkan bumi bisa dimulai dari piring makan kita!” Begitu jargon yang belakangan kerap digembar-gemborkan.

Gaya hidup vegetarian rupanya tak hanya populer di kota besar, belakangan pola makan ini juga merebak hingga ke beberapa daerah, termasuk Solo. Di Solo setidaknya sudah ada empat rumah makan spesial vegetarian. Jangan bayangkan makanan vegetarian bakal monoton dan selalu berkutat pada sayur dan buah. Buktinya, tak sedikit rumah makan vegetetarian yang menyajikan menu nyentrik dan unik dengan tetap mempergunakan bahan nabati.

”Tak ada bedanya dengan ayam goreng yang asli bukan?” tutur  pemilik Depot Vegetarian Taman Bali di Jalan Bali 4 Banjarsari, Madyaningsih,  sembari menunjukkan sepotong makanan berbentuk ayam goreng kepada Espos, Rabu (11/11).

Daging Palsu

Memang benar, sepintas lalu beberapa hidangan yang disediakan restoran vegetarian tak berbeda dengan potongan daging ayam biasa. Teksur dagingnya juga persis sama. Padahal, potongan daging itu, terbuat dari gluten atau sari pati gandum. Serupa tapi tak sama.

Namanya juga daging palsu, rasa daging jadi-jadian ini, jelas berbeda dengan rasa daging asli. Tapi, dengan kelihaian meramu bumbu, membuat rasa daging palsu nyaris sama dengan daging ayam sungguhan. ”Sebagian besar makanan yang kami hidangkan, berbahan gluten dan sayuran hijau. Semuanya tidak menggunakan bawang,” ujarnya. 

Tak heran, rumah makan itu selalu ramai oleh penikmat makanan nabati. Apalagi, dengan menu prasmanan, pengunjung bebas mengambil menu yang disukai. ”Harganya murah. Nasi sayur plus minum rata-rata cuma Rp 7.500,” tutur Madyaningsih.
Menu daging palsu yang nyentrik juga bisa ditemui di Rumah Makan Vegetarian Fajar dan Rumah Makan Maitri Jaya. Sebut saja, sate ayam dari gluten, bebek kecap yang terbuat dari jamur, ikan tuna dari olahan kedelai sampai kripik paru jadi-jadian yang terbuat dari rumput laut.

”Tak jarang orang-orang dari Semarang datang kemari, sengaja untuk membeli kripik rumput laut,” tutur salah seorang karyawan di Rumah Makan Fajar, Sherly Margareta.

Di Rumah Makan Fajar, pembeli dapat langsung memilih aneka menu prasmanan. Harga per porsi nasi sayur rata-rata Rp 10.000. Sementara, lauk dari olahan sayur impor per porsinya dihargai Rp 15.000.

Yang khas di Rumah Makan Maitri Jaya, adalah sajian bistik berbahan dasar daging dari olahan kedelai, seharga Rp 12.500 per porsi. Bukan hanya itu,  rumah makan ini juga menyediakan beragam daging palsu mentah. Ada ham yang terbuat dari kedelai, daging steak dari jamur hingga seafood seperti cumi, tuna dan udang. ”Namun mengonsumsinya harus diimbangi dengan sayuran,” kata pengelola Rumah Makan Maitri Jaya, Mei Qin.

Gaya sajian berbeda ditampilkan Rumah Makan Vegetarian Gloria. Jika datang ke sana, jangan harap bisa langsung memilih aneka menu yang tersedia. ”Kami menggunakan konsep langsung dimasak, jadi semua hidangan terasa fresh,” tutur pemilik rumah makan, Ifam Tedi Borneo.
Menu vegetarian yang disajikan juga tak kalah lengkap. Anda bisa mencoba menu ayam lada hitam, ayam goreng kalasan hingga koloke berupa paduan daging udang palsu dengan kacang polong dan kuah asam manis. Harga aneka daging palsu di restoran ini memang sedikit lebih mahal, mulai dari Rp 20.000 per porsi. Maklum, semua bahannya masih impor.

Belakangan, beberapa restoran ternama di Solo juga menyediakan menu sehat serba sayur ala vegetarian yang layak dicoba.. Che-Es Resto misalnya, menyajikan capcay ala vegetarian, begitu pula, dengan Griya Solo Resto. Sementara, di Goela Kelapa, ca kangkung bisa menjadi pilihan. ”Jika ada yang mau ca sawi atau sayur lainnya bisa tetap dipesan meski tak tercantum dalam daftar menu,” jelas Supervisor Food and Beverage Golea Kelapa, M Wahyu Hidayat.

Ya, apapun jenis olahan makanan  nabati baik bagi vegetarian maupun yang baru menjajal, yang jelas kini semakin banyak pilihan menu sehat. 
m83

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…