Minggu, 22 November 2009 20:00 WIB Solo Share :

Kebocoran ancam sejumlah pasar, pedagang mengeluh

Solo (Espos)–Musim hujan menyebabkan kebocoran di sejumlah pasar tradisional Kota Solo. Di Pasar Purwosari kobocoran atap pasar dikeluhkan pedagang, lantaran menyebabkan aktivitas jual beli macet.

Disamping Pasar Purwosari, Dinas Pengelola pasar (DPP) juga menerima laporan dari tiga pengelola pasar tradisional lain, yakni Pasar Turisari, Pasar Penumping dan Pasar Umbul. Salah satu pedagang Pasar Purwosari, Ndari mengatakan kebocoran yang terjadi di pasar setempat cukup parah. Setiap kali hujan, pedagang sibuk mengamankan barang dagangan dan menyediakan ember penampung air hujan, agar air tidak meluber ke lantai.

“Belum lagi, kalau angin kencang. Atap pasar seperti mau terbang, suaranya gemuruh. Karena khawatir banyak yang akhirnya pilih tutup lebih awal, jam 13.00 WIB sudah tutup. Aktivitas jual beli jadi macet,” kata Ndari, saat ditemui Espos, di pasar setempat, Minggu (22/11).

Senada disampaikan, pedagang lain, Prapti. Pedagang yang mengaku telah lebih dari 45 tahun berdagang di Pasar Purwosari tersebut menilai bangunan pasar tidak layak. Selain bagian atap yang berlubang di sejumlah titik, tembok bagian timur juga terlihat berlubang. Prapti mengatakan pedagang sangat berharap DPP segera memperbaiki bangunan Pasar Purwosari, khususnya bagian atap. Pasalnya, bangunan pasar tersebut telah berusia lebih dari 20 tahun.

Sementara itu, Kepala DPP Solo, Subagiyo mengakui pihaknya menerima laporan kebocoran di sejumlah pasar. Kamis (19/11) lalu, lanjutnya, DPP telah melakukan pengecekan di empat pasar.

“Pasar Puwosari, Pusar Umbul, Pasar Turisari dan Pasar Penumping. Ada laporan kebocoran di empat pasar itu. Setelah saya cek, ternyata tidak terlalu parah. Artinya, kebocoran itu bisa diatasi dengan perbaikan ringan. Namun, dari empat pasar itu, Pasar Purwosari memang cukup parah. Jadi akan diusulkan untuk pembangunan total. Tapi tidak dalam waktu dekat,” papar Subagiyo.
tsa

lowongan pekerjaan
sales, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…