Minggu, 22 November 2009 15:49 WIB News Share :

DPR
Pergantian Dirut PLN tak selesaikan krisis listrik

Jakarta–Pergantian Direktur Utama PT PLN (Persero) tidak akan menyelesaikan krisis listrik yang tengah melanda negeri ini. Krisis akan tetap ada, jika PLN tidak diberikan pendanaan yang layak oleh Pemerintah untuk menghidupkan listrik di tanah air.

“Dirut PLN diganti itu tidak mutlak karena masalah PLN itukan modal kerja,” ujar Anggota Komisi VII, DPR  Soetan Batoegana saat berbincang Minggu (22/11).

Menurut Soetan, BUMN listrik tersebut membutuhkan modal kerja sekitar hingga Rp 30 triliun lebih  agar BUMN listrik tersebut menjadi sehat.
“Sekarang PLN itukan abnormal, untuk menutupi pendanaan dia utang sana utang sini,” ungkap Soetan.

Ia menyatakan, untuk menyelamatkan sistem kelistrikan di Indonesia maka ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama yaitu, kemauan pemerintah untuk memperbaiki regulasi kelistrikan nasional. Kedua memberikan modal kerja yang layak untuk PLN dan ketiga, harus ada perencanaan untuk meningkatkan
kualitas listrik di tanah air.

Menurut dia, untuk menghindari pemadamam terjadi di Indonesia maka diperlukan pembangunan pembangkit sebesar 20.000 Megawatt (MW). Saat ini, dari 20.000 MW yang sudah ada di Indonesia, 15.000 MW-nya dimiliki PLN, sisanya oleh swasta.

“Makanya pemerintah membuat proyek pembangunan pembangkit 10.000 MW tahap 1 dan 2,” ujar dia.

Namun masalahnya, lanjut Soetan, saat proyek itu selesai dibangun maka akan sia-sia jika listrik yang dihasilkan pembangkit-pembangkit tersebut tidak dapat dialirkan ke para pengguna listrik karena PLN tidak memiliki pendanaan untuk membangun transmisi, trafo dan gardu  induk.

“PLN ini banyak kerjaannya.  Kalau modal tidak ada, ya bisa kolaps,” tegas Soetan.

Untuk itu, ia menilai pergantian dirut PLN tersebut tidak akan menyelasikan masalah kelistrikan hingga ke akar masalah. “Makanya saya bilang pergantian itu tidak mutlak, tapi kalau mau penyegaran boleh silahkan,” ungkapnya.

Kalaupun pergantian tidak dapat dihindari, Soetan beranggapan sebaiknya pengganti Dirut PLN berasal dari internal PLN karena dinilai lebih menguasai seluk beluk perusahaan tersebut. “Kalau secara logika harusnya orang dalam.  Tapi tidak menutup kemungkinan orang dari luar juga bisa, namun ini harus ahli dalam manajerial,” ungkapnya.

Saat ditanya siapa orang internal dan eksternal yang layak untuk mengisi posisi itu, Soetan enggan menyebutkan nama.“Saya tidak bisa sebutkan nama. Nanti saya dikira pendukung seseorang,” tandasnya

 

dtc/tya

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…