Sabtu, 21 November 2009 23:57 WIB Karanganyar Share :

153 KK di Plosorejo masih terancam longsor

Karanganyar (Espos)–Bencana tanah longsor masih menjadi ancaman serius bagi warga Karanganyar, terutama yang tinggal di kawasan perbukitan dan lereng Gunung Lawu.

Di Desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, sebanyak 153 kepala keluarga (KK) masih hidup dalam ancaman longsor dua bukit yang menjulang di atas permukiman mereka.

Terlebih, saat ini rekahan bukit di sekitar permukiman mereka terus bertambah panjang setelah diguyur hujan lebat dalam beberapa hari terakhir ini. Warga setempat pun diminta terus siaga dan waspada terhadap kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi setiap waktu.

Koordinator Lapangan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kabupaten Karanganyar, Aji Pratama Heru K, mengatakan Desa Plosorejo saat ini masuk dalam daftar skala pengawasan tim Satlak PB. Hingga kini, kata dia, terus terjadi pergerakan tanah di perbukitan setempat. Tipe pergerakan tanah di bukit Dwarawati dan bukit Kresno yang menjulang di atas permukiman warga berupa rayapan tanah.

“Tipe pergerakan tanah bukan berupa luncuran, melainkan rayapan dan itu terjadi di dalam tanah. Perlahan-lahan, namun pasti, terus terjadi pergerakan tanah. Kondisi ini membuat bencana longsor tak bisa diprediksi kapan datangnya. Bisa dalam sebulan, setahun atau beberapa pekan saja, tergantung sampai sejauh mana pergerakan tanah yang terjadi itu,” ungkapnya, saat ditemui Espos di kantornya, akhir pekan lalu.

Disebutkan Heru, rekahan bukit yang ada di Desa Plosorejo saat ini panjangnya sudah mencapai 115 meter dengan lebar antara 15 sampai 20 cm. Sebanyak 153 KK yang berada di daerah rawan longsor itu tersebar di wilayah Dusun Banaran, Bono, dan Plosorejo.

Sebagai daerah yang masuk dalam daftar skala pengawasan, lanjut Heru, Desa Plosorejo juga disiapkan menjadi desa siaga bencana. Di wilayah Provinsi Jateng hanya terdapat empat daerah yang diplot sebagai desa siaga bencana, dengan masing-masing tipe bencana.

“Untuk Karanganyar, ada di Desa Plosorejo, dengan tipe bencana tanah longsor. Pada Selasa-Kamis (24-26/11) mendatang, kami akan menggelar gladi lapang atau pelatihan desa siaga bencana bagi masyarakat setempat. Dengan pelatihan itu, masyarakat diharapkan lebih siap dan waspada jika sewaktu-waktu benar-benar terjadi bencana,” terangnya.

dsp

SOLO BAKERY, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Pelajaran dari First Travel

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (18/8/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Ditangkap dan ditahannya Direktur Utama PT First Anugerah Karya Wisata (First…