Kamis, 19 November 2009 13:30 WIB News Share :

RSUD BUleleng akui jual vaksin anti rabies Rp 188.000

Denpasar–RSUD Buleleng menjual vaksin anti rabies (VAR) yang seharusnya dibagikan secara gratis, seharga Rp 188.000 kepada dua pasien. Rumah Sakit ini berdalih kehabisan stok VAR karena lambat mengambil jatah ke Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Kasus jual beli VAR di RSUD Buleleng membuat Gubernur Bali Made Mangku Pastika kecewa. Ia pun memerintahkan RSUD Singaraja untuk segera mengambil jatah vaksin anti rabies (VAR) di Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

“RSUD Singaraja memang belum mengambil jatahnya,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali Putu Suardhika, Kamis (19/11).

“Gubernur Bali Made Mangku Pastika merasa kaget mendengar kejadian itu sehingga langsung memerintahkan Kadiskes Bali melakukan pengecekan. Dari hasil pengecekan yang dilakukan,
ternyata, memang benar stok VAR di RSUD Singaraja habis,” lanjut Suadhika.

Pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Suteja. Menurut Suteja, pihaknya telah memberikan jatah 100 vial VAR kepada RSUD Buleleng pada 5 November 2009. “Kita sudah memberikan jatah ke Buleleng,” kata Suteda.

Hal ini terlihat dari proses vaksinasi yang diberikan pihak RSUD Buleleng kepada pasien bocah inisial YG (8) serta pasien seorang nenek.

Kedua pasien ini telah mendapatkan suntikan VAR tahap pertama pada 10 November 2009. Mereka pun dijanjikan akan mendapatkan suntikan VAR tahap kedua pada 17 November 2009 secara gratis. Namun, oleh petugas RSUD Buleleng, mereka disarankan untuk membeli VAR di apotik atau berobat ke RSUP Sanglah, Denpasar. “Kami terpaksa membeli di apotik,” kata orangtua YG.

Orang tua YG pun tidak percaya stok VAR di RSUD Buleleng habis. “Kami diminta datang kedua kali untuk disuntik VAR gratis. Saya pikir, stok di rumah sakit pasti ada karena sudah dijadwal untuk datang pada 17 November 2009,” ujarnya.

Seperti diketahui Pemprov Bali telah mendistribusikan VAR ke seluruh kabupaten/kota. Kabupaten Badung sebanyak 5.124 vial, RSUP Sanglah (5.052) vial, FK Unud/BBV + Biomol (17 vial), Disnak Bali (42 vial), Denpasar (4.122 vial), RS Polda (40 vial), Tabanan (150 vial), Kabupaten selain Tabanan, Badung dan Denpasar (700 vial) dan stok Dinkes Bali 113 vial. Stok pada Dinkes Bali sudah termasuk jatah RSUD Singaraja yang belum diambil.

Mengantisipasi munculnya kasus baru, Pemprov Bali mengimbau kepada Pemkab/Pemkot se-Bali untuk segera menyiapkan VAR di masing-masing wilayahnya.

dtc/isw

lowongan kerja
lowongan kerja PT. Bank perkreditan rakyat, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Globalisasi dan Toleransi

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Senin (10/7/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pidato Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barrack Obama, di Kongres Diaspora Indonesia menegaskan dua hal penting:…