Rabu, 18 November 2009 16:19 WIB Kesehatan Share :

Rokok penyebab kemiskinan dan gizi buruk

Ungaran (Espos)–Rokok memberikan kontribusi cukup signifikan atas munculnya kasus gizi buruk dan tingginya angka kemiskinan. Data menunjukkan, sekitar 40-75 persen perokok yang umumnya adalah seorang kepala keluarga, berasal dari keluarga miskin.

Dan pengeluaran untuk membeli rokok  rata-rata sebesar 22 persen dari total pengeluaran mingguan seorang kepala keluarga. Sementara pengeluaran untuk membeli beras yang merupakan kebutuhan pokok hanya sebesar 19 persen saja.

Demikian terungkap dalam pemaparan Kasi Promosi Kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Agus Sartono, dalam Editorial Roundtable Discussion bertemakan “Peningkatan Dukungan Media Massa dalam Sosialisasi Cukai rokok dan Dampak Roko Bagi Kesehatan” di Kampoeng Kopi Banaran, Kabupaten Semarang, Rabu (18/11). Ia mengatakan, pengeluaran seseorang untuk membeli rokok 14 kali lipat lebih besar dibandingkan untuk membeli daging, lima kali lebih besar dari membeli telur dan susu.

“Pengeluaran rokok rumah tang miskin rata-rata Rp 113.000/bulan, lebih besar dari bantuan langsung tunai Rp 100.000/bulan,” terang Agus.

Tingginya perokok dari kalangan keluarga miskin ini, menurutnya, disebabkan minimnya pendidikan dan pengetahuan mereka terhadap dampak yang ditimbulkan dari merokok baik bagi individu maupun keluarga dan lingkungannya. Baik dari segi kesehatan dan ekonomi keluarga.

Agus menungkapkan adanya sebuah kajian yang menyimpulkan pada keluarga miskin perkotaan di Indonesia, kebiasaan meroko kepala keluarga menggeser pengeluaran rumah tangga dari makanan ke rokok. Hal ini yang memicu kurang gizi pada balita.

“Kalau tidak merokok, pengeluaran untuk rokok bisa dialihkan untuk peningkatan gizi keluarga,” papar dia.

Sementara pembicara lainnya yakni Adi Nasmudin, Kasi Kepabeanan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jateng & DIY, mengatakan pemerintah masih mengandalkan pemasukan dari cukai rokok. Pada tahun 2010, pemerintah menargetkan penerimaan dari cukai mencapai Rp 18 triliun, meningkat sekitar 10 persen dari target tahun ini Rp 15,5 triliun. “Sekitar 90 persen dari penerimaan tersebut merupakan penerimaan cukai hasil tembakau (rokok),” tuturnya.

kha

lowongan kerja
lowongan kerja NUPEST CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…