Selasa, 17 November 2009 16:35 WIB News Share :

Warga keluhkan pembayaran vaksin anti rabies


Denpasar–
Pemerintah Provinsi Bali mencanangkan Bali bebas rabies dengan membagikan vaksin anti rabies (VAR) secara gratis ke seluruh kabupaten/kota. Namun ternyata, untuk mendapatkan vaksin itu sangat susah. Pasien harus membeli VAR seharga ratusan ribu di rumah sakit.

Kondisi ini terjadi di RSU Buleleng, Bali pada dua orang, yakni nenek dan bocah, yang tergigit anjing, salah satunya berinisial YG (8). Mereka tengah menjalani proses vaksinasi anti rabies di rumah sakit.

Saat vaksinasi tahap pertama pada (10/11), kedua bocah ini mendapatkan suntikan VAR sebanyak dua kali secara gratis. Namun, saat menjalani vaksinasi pada tahap kedua, Selasa (10/11) mereka harus membeli VAR seharga Rp 188.000. Vaksin ini dibeli di apotik Giri Putri yang terletak di dalam rumah sakit.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah menggangarkan dana untuk program Bali bebas rabies sebesar Rp 10 miliar. Salah satu programnya adalah membagikan vaksi secara gratis.

Orang tua pasien pun protes dengan pihak rumah sakit. Mereka kecewa harus membeli vaksin. “Kata petugas rumah sakit vaksinnya habis padahal pertama kali gratis. Kita diminta membeli vaksin anti rabies di apotik. Padahal pemerintah mengatakan vaksin anti rabies dibagikan secara gratis,” kata orang tua pasien.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSU Buleleng dr Nyoman Mardana berkilah tidak bisa memberikan VAR secara gratis karena stok vaksin di rumah sakit telah habis.

Agar pasien dapat menjalani proses vaksinasi, pihak RSU Buleleng menganjurkan pasien ke RSUP Sanglah. “Kita anjurkan pasien untuk berobat ke RSUP Sanglah atau membeli vaksin sendiri,” katanya kepada detikcom via telepon.

Mardana mengakui kesulitan mendapatkan jatah VAR dari Diskes Provinsi Bali. Hingga kini, pihaknya baru mendapatkan 30 unit VAR untuk manusia. “Stok VAR kita sudah habis. Dalam bulan ini, kita menangani pasien gigitan anjing sebanyak 20 kasus,” katanya.

dtc/isw

Lowongan Pekerjaan
SALES, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…