Selasa, 17 November 2009 10:55 WIB News,Haji,Internasional Share :

Calhaj tersesat capai ratusan orang per hari


Makkah–
Mendekati puncak ibadah haji, jumlah jamaah calon haji (calhaj) Indonesia yang tersesat mendekati ratusan orang per hari. Mayoritas jamaah yang tersesat itu dialami jamaah yang berusia lanjut.

“Kemarin lusa yang tersesat jalan 111 orang, kemarin 97 orang, hari ini ada 83 orang. Jamaah tersesat jalan biasanya kami jumpai setiap kali selesai waktu salat,” kata Kepala Sektor Khusus Jamaah Sesat Jalan M Ali Saifudin kepada wartawan Media Center Haji di Makkah, Senin (16/11).

Menurut Ali, dibandingkan dengan kondisi pada awal November, saat jamaah Icalhaj Indonesia baru masuk Makkah, jumlah itu meningkat drastis, dibanding sebelumnya yang mencapai sekitar 30 orang per hari. Semakin banyaknya jamaah calhaj Indonesia yang berada di Makkah, ditambah suasana Masjidil Haram yang semakin padat dengan jamaah dari penjuru dunia membuat jamaah mudah terpisah dari rombongan.

Akibatnya, jamaah yang memang tidak mengenal medan di Makkah mudah tersesat. “Jumlah pintu Masjidil Haram ada 94 buah, ketika jemaah masuk dari pintu yang satu, terus keluarnya dari pintu yang lain, mereka jadi bingung dan tersesat,” jelasnya.

Ali menambahkan, mayoritas jamaah yang tersesat berusia 60 tahun ke atas, baik tersesat sendirian maupun rombongan. “Pernah ada dua puluhan jemaah tersesat bersama karena ketua rombongannya tidak memahami jalan,” ungkapnya.

Ali juga menerangkan, jamaah yang tersesat ini juga rata-rata tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonsia dengan baik, tapi hanya mampu dengan bahasa daerah masing-masing. Tentunya, ini menimbulkan kesulitan tersendiri saat petugas jamaah sesat ketika hendak menanyakan nomor rumah pemondokannya.

Namun setelah mencocokkan identitas di gelang identitas dengan “data base” jamaah, persoalan itu terselesaikan. Untuk mengurangi risiko jamaah tersesat, Ali menganjurkan agar jamaah mengenali medan. Mereka harus ditunjukkan lokasi dan pintu-pintu yang bisa dijadikan patokan.

Saat hendak masuk masjid, jemaah disarankan tidak meletakkan alas kaki di tempat penitipan sandal yang berada di luar masjid. Sebaiknya, jemaah menaruh sendal atau sepatunya di tas kresek dan membawa serta ke dalam masjid. Dengan begitu, saat hendak keluar masjid jemaah lebih leluasa untuk keluar lewat pintu mana saja.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…