Senin, 16 November 2009 20:18 WIB Karanganyar Share :

Tanah bergerak, 15 rumah di Bandardawung retak-retak

Karanganyar (Espos)–Sedikitnya 15 buah rumah di Dukuh Dawung dan Gondang Desa Bandardawung, Tawangmangu, mengalami retak-retak dan kerusakan bervariasi akibat pergerakan tanah di lingkungan setempat yang berlangsung di setiap musim penghujan.

Informasi yang dihimpun Espos di Desa Bandardawung menyebutkan, dari total 15 rumah yang retak-retak itu, 12 buah di antaranya berada di Dukuh Dawung dan tiga lainnya di Gondang. Menurut penuturan warga kondisi itu sudah berlangsung sekitar 25 tahun sejak 1980-an. Setiap tahun tanah di atas tempat tinggal mereka bergerak, terutama setelah diguyur hujan deras.

“Hal itu mungkin karena struktur tanah di Dawung dan Gondang yang labil. Sejak kali pertama terjadi pada tahun 1984, selalu ada pergerakan tanah ketika musim penghujan di tahun-tahun berikutnya. Umumnya peristiwa itu setelah hujan lebat dalam waktu yang lama,” ungkap Ketua RW VIII Dukuh Dawung, Muhammad Dwi Warno, ditemui Espos di rumahnya, Senin (16/11).

Dwi Warno memaparkan, 12 rumah yang retak di Dukuh Dawung tersebar di wilayah RT 01, RT 02, dan RT 03. Namun demikian yang terbanyak di lingkungan RT 02, yaitu mencapai delapan rumah dan salah satu di antaranya yang bernasib serupa adalah tempat tinggalnya sendiri. Sedangkan di RT 01 dan RT 03 yang jaraknya berdekatan, masing-masing ada tiga dan satu buah rumah.

“Dampak dari pergerakan tanah itu adalah warga harus sering-sering memperbaiki rumah mereka yang rusak. Saya sendiri tercatat sudah lima kali membangun rumah yang betul-betul baru, tetapi kemudian semua bernasib sama. Padahal lokasinya sudah digeser meski tak terlalu jauh,” imbuh Dwi Warno yang mengaku membangun rumah kali terakhir sekitar delapan tahun lalu pada 2000.

Ditemui terpisah, Kasi Trantib Desa Bandardawung, Sunarjo, mengakui perihal adanya ancaman longsor akibat pergerakan tanah di Dukuh Dawung dan Gondang. Dia juga membenarkan perihal peristiwa itu yang terus berlangsung setiap tahun, terutama saat musim penghujan. Akibat keadaan tersebut, beberapa warga pindah ke lokasi lain di dukuh yang sama, namun dinilai lebih aman.

“Meski intensitasnya tak terlalu besar, pergerakan tanah di RW VIII Dawung tak pernah berhenti sejak kali pertama terjadi pada lebih dari 20 tahun lalu. Karena itu pemerintah desa selalu waspada dan tak pernah lalai mengingatkan mereka yang berada di daerah retakan. Apalagi ketika sedang berlangsung musim penghujan seperti sekarang ini,” ujarnya di Kantor Desa Bandardawung.
try

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…