Senin, 16 November 2009 14:20 WIB News Share :

Rekonstruksi di rumah Djahri tertutup

Temanggung–Setelah di Pasar Kedu dan rumah tersangka Aris, polisi melanjutkan proses rekonstruksi penggerebekan tersangka teroris di Temanggung di rumah Djahri. Namun proses rekonstruksi di rumah tersebut berlangsung tertutup.

Dalam proses rekonstruksi itu terungkap, usai berbincang-bincang di rumah tersangka Aris di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung, Syaifudin Zuhri dan Ibrohim, yang diperankan anggota Densus 88 Mabes Polri, bersama Aris dan Indra menuju tempat pemakaman umum di desa setempat.

Di tempat ini para tersangka hanya menunggu waktu gelap. Selanjutnya sekitar pukul 03.00 WIB, Jumat 7 Agustus, Ibrohim dan Indra menuju ke rumah Djahri di desa yang sama. Keduanya masuk lewat pintu belakang dan disambut langsung oleh pemilik rumah. Sedangkan Aris mengantar Syaifudin Zuhri menuju jalan raya Kedu. Syaifudin kemudian naik angkutan umum menuju arah Magelang.

Indra tidak lama di rumah Djahri. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, dia kemudian pamit pulang dan meninggalkan Ibrohim di rumah Djahri. Namun dalam perjalanan menuju rumahnya, dia ditangkap anggota Densus 88. Sedangkan Aris ditangkap di sekitar Pasar Kedu.

Proses rekonstruksi di dalam rumah Djahri berlangsung tertutup. Para wartawan tidak bisa ikut masuk ke dalam rumah Djahri sehingga sulit mengetahui adegan apa saja yang diperagakan.

Namun yang jelas, di rumah tersebut Ibrohim tidak membekali dirinya dengan senjata atau bom yang siap diledakkan. “Tidak ada senjata atau bom,” kata Komandan Satgas Penyidik dan Penjinak Bom Densus 88 Mabes Polri, AKBP Zamri, di sela-sela proses rekonstruksi, Senin (16/11).

Seperti diketahui, Ibrohim tewas di rumah Djahri dalam penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri. Penggerebekan terhadap pria yang berprofesi sebagai florist ini cukup dramatis. Densus 88 mengepung dan memberondong rumah Djahri dengan tembakan selama 17 jam. Jenazah Ibrohim ditemukan di bagian belakang rumah Djahri dengan 1 buah luka tembak di punggung.

Saat rekonstruksi digelar di rumahnya, tersangka Aris sempat bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Dalam kesempatan itu Aris sempat menciumi dan memeluk buah hatinya.

“Saya kangen sekali sama anak-anak. Sayang tidak bisa lama-lama bertemunya,” ujar Aris.

Aris memang sempat meminta kepada petugas agar diberikan waktu lebih lama lagi bertemu dengan anaknya. Namun permintaan tersebut ditolak.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT. PERINTIS KARYA SENTOSA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…