Senin, 16 November 2009 20:37 WIB Issue Share :

Monolog Putu Wijaya, melihat sosok WS Rendra sebagai manusia biasa

Solo (Espos)–Nyawa budayawan WS Rendra memang telah melayang meski “kegilaan” di negeri ini belum juga padam. Pemikiran visionernya kini hanya bisa dijamah melalui karya-karya yang ditinggalkannya. Untuk memperingati 100 hari kematian Si Burung Merak tersebut, sastrawan kawakan Putu Wijaya lantas membuat pementasan monolog bersama Teater Mandiri berkeliling  ke belasan kota. Salah satunya digelar di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta (TBS), Minggu (15/11) malam.

Jeritan bernada penyesalan bertubi-tubi keluar dari mulut Putu Wijaya di akhir pementasan monolog berjudul Burung Merak, Kegagalan dalam Kemiskinan tersebut. Tangisan itu memecah kebekuan arena pementasan saat dirinya memeluk boneka putih yang dijadikan bayangan sosok Rendra.

Putu menggambarkan betapa beratnya Bangsa ini saat kehilangan seorang seniman dan budayawan yang cerdas, kritis, dan lugas dalam menanggapi perkembangan zaman. Di alur cerita pentas monolog itu, Putu pun seolah-olah langsung didatangi sosok Rendra lewat boneka raksasa yang dikendalikan lewat beberapa utas tali itu.

Ia menyesal, betapa banyak orang dan penggemar yang menuntut kesempurnaan dari sosok Rendra. Banyak yang tidak menyadarai kalau Rendra adalah manusia biasa yang bisa berbuat khilaf. Dia menilai, ekspektasi berlebih dari masyarakat pada Rendra justru bisa memberikan pikulan beban baginya.

“Kami sudah menobatkanmu jadi pahlawan, idola, simbol perjuangan, jadi inspirasi kegagahan. Sedikit saja ada yang cacat pada dirimu kami langsung mengamuk. Padahal kamu manusia biasa, aku minta maaf mas,” teriak Putu Wijaya dengan lantang diwarnai tangisan.

Dalam pementasan tersebut, Putu juga menumpahkan rasa trenyuhnya ketika belakangan dia bertemu dengan pelukis bernama Hardi yang membeberkan suatu hal. “Ini negeri macam apa, kok membiarkan sastrawan yang sebesar itu sampai cari komisi dari jual lukisanku untuk membiayai keluarganya,” ujar Putu menirukan kata-kata Hardi.
hkt

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…