Senin, 16 November 2009 16:45 WIB Internasional,Issue Share :

Cindy Crawford jadi korban pemerasan


Los Angeles–
Supermodel Cindy Crawford mengalami pemerasan. Seorang pria meminta bayaran Rp 1,5 miliar. Si pria mengancam akan menyebarkan foto putri Crawford yang dalam kondisi tangan dan mulutnya terikat.

Edis Kayalar mencuri foto tersebut dari pengasuh anak Crawford, yang pernah berteman dengannya. Kayalar saat ini sudah dideportasi ke negara asalnya, Jerman dan tengah diburu polisi. Ia terancam hukuman penjara maksimal dua tahun.

Saat melakukan pemerasan, Kayalar meminta transaksi penukaran uang dengan foto dilakukan di Venice, California. Transaksi tersebut harus dilakukan oleh Crawford dan suaminya Rande Gerber.

“Kayalar mengklaim memiliki foto seksi putri Crawford dan Rande,” begitu laporan yang dibuat oleh pasangan itu, seperti detikhot kutip dari The Sun, Senin (16/11/2009).

Pengasuh anak Crawford sangat kaget, foto hasil jepretannya digunakan sebagai alat memeras. Padahal sebenarnya foto tersebut diambil saat ia dan putri Crawford memainkan permainan ‘polisi dan perampok.’

Kayalar yang meminta bayaran Rp 1,5 miliar kemudian mengajak Crawford dan Rande bertemu di Venice, California. Dalam pertemuan tersebut, Kayalar menunjukkan Rande foto putrinya yang ia simpan di handphone. Kayalar mengaku memiliki yang asli, namun ia simpan untuk keamanannya.

Rande lalu membayar Kayalar US$ 1.000. Ia memaksa Kayalar untuk menyerahkan foto asli putrinya. Namun dua hari setelah pertemuan itu, Kayalar meminta bayaran lebih dan mengancam akan menyebarkannya ke media.

Tak mau terseret ancaman Kayalar, Crawford dan suaminya mengeluarkan pengumuman. “Rande Gerber dan Cindy Crawford telah menjadi korban pemerasan. Mereka akan mengambil langkah hukum pada siapapun yang terlibat jual-beli foto putri mereka,” begitu pernyataan pasangan itu melalui juru bicara mereka.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…