Sabtu, 14 November 2009 20:03 WIB News Share :

Lagi, 15 aktivitis Greenpeace ditangkap


Pekanbaru-
-Petugas dari Polres Pelalawan Riau kembali menangkap 15 aktivis Greenpeace di lokasi basecamp di Desa Teluk Meranti, Kecamatan Meranti, Kabupaten Pelalawan Riau. Atas tekanan pihak kepolisian ini, Greenpeace akan segera hengkang.

“Awalnya polisi minta kami bubar jam enam sore ini tapi kami minta penambahan waktu 1×24 jam karena tidak mungkin bisa mengemasi seluruh peralatan kami. Maka sebagai bentuk konsekuensinya, 15 teman kami dibawa polisi,” kata juru bicara Greenpeace, Zulfahmi, Sabtu (14/11) yang tengah berada di lokasi tersebut.

Menurut Zul, bila dengan batas waktu 1×24 jam mereka tidak keluar, maka polisi mengancam akan membubarkan paksa. Karenanya saat ini para aktivis internasional itu tengah mengemasi seluruh barang-barang mereka yang ada di basecamp.

“Kata Polres Pelalawan pada kami, perintah pembubaran ini merupakan hasil rapat Muspida Riau yakni Kapolda, Gubernur dan Bupati Pelalawan. Apa boleh buat kami saat ini tengah bersiap-siap untuk meninggalkan lokasi ini,” kata Zulfahmi.

Pengacara Greenpeace, Ali Husin Nasution menyebut, tindak polisi yang memaksa para aktivis itu dinilai berlebihan. Apalagi lokasi bascamp yang dibangunĀ  tidak berada di lokasi PT RAPP melainkan di atas tanah milik masyarakat.

“Kita menyayangkan sikap polisi yang berlebihan itu. Kehadiran rekan-rekan greenpeace melakukan kampenye atas penyelamatan hutan gambut di Riau. Dimana hutan gambutĀ  seluas 56 ribu hektar diberikan pada RAPP. Padahal izin yang keluar justru bermasalah,” kata Ali Husin.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…