Sabtu, 14 November 2009 19:03 WIB Haji,Internasional Share :

Calhaj diminta waspadai pencurian di pemondokan

Madinah–Jamaah Calon Haji (Calhaj) Indonesia diminta untuk mewaspadai kasus pencurian modus baru yang dilakukan di pemondokan. Selain kasus pencopeten dan penjembretan yang selama ini menimpa jamaah calon haji Indonesia ketika berada di Madinah yang biasanya di lakukan di sekitar Mesjid Nabawi.

“Modus yang digunakan pelaku pada salat subuh dan waktu magrib hingga salat isya,” kata Kepala Seksi Pengamanan Daerah Keja Madinah, Azharudin Jamin, kepada wartawan Media Center Haji di Madinah, Sabtu (14/11).

Menurut Azharudin, kasus pencurian di pemondokan yang dialami jamaah Indonesia mencapai 15 kasus, kasus pencurian ini terjadi di pemondokan yang di laur markaziah. Pelaku kriminal ini, diindikasikan bukan dilakukan jamaah maupun orang luar, karena ketika kamar ditinggalkan dalam keadaan terkunci dan kunci dititipkan kepada resepsionis.

Menyangkut model pengamanan, lanjut Azharudin, diserahkan kepada Majmuah sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak. Majmuah seharusnya juga bertanggungjawab untuk menggantinya setiap adanya kehilangan yang alami jemaah Indonesia.

“Hanya saja dari belasan kasus yang terjadi di pemondokan, baru 3 kasus yang mendapat penggantian dari Majmuah,” jelasnya.

Oleh karena itu, Azharudin mengimbau kepada jamaah untuk berhati-hati dan pengamanan harus melekat pada jamaah itu sendiri. Para Ketua Kloter, Ketua Rombongan dan Ketua Regu untuk mengingatkan kepada rombongannya agar barang-barang berharga dititipkan kepada petugas.

Sementara, kerugian yang menimpa jamaah calon haji atas kasus pencurian dan penjambretan di Madinah menxcapai Rp 208 Juta atau SR 80.000 (Riyal Saudi). Kasus pencurian atau penjembretan yang dialami jamaah Indonesia selama di Madinah tercatat 50 kasus atau 0,05% .

Menurut Azharudin, kasus-kasus kriminal yang dialami oleh jamaah Indonesia langsung dilaporkan ke Surthoh Markaziah atau kantor kepolisian di Madinah dan Mabais (bagian inteligen). Kepolisian Madinah sendiri kemudian menangkap lebih dari 20 orang yang diduga melakukan kriminal terhadap jamaah Indonesia.

“Ke-20 orang tersebut rata-rata WNI, dan yang tertangkap tangan hanya satu orang, yang lainnya masih diduga,” ungkapnya.

Ditambahkan Azharudin, pihak kepolisian sendiri sangat responsif menangani kasus kriminal yang dialami oleh jamaah Indonesia dengan melakukan razia dan menangkap orang—orang yang dicurigai di sekitar Mesjid Nabawi sehingga menurunkan angka kriminalitas terhadap jamaah Indonesia . “Kami akan terus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat untuk menangani kasus-kasus seperti ini,” katanya.

dtc/isw

lowongan kerja
lowongan kerja PT Astra International tbk Daihatsu Solobaru, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Guru Sejarah Melawan Intoleransi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (11/7/2017). Esai ini karya Nur Fatah Abidin, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah ikbenfatah@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (8/7) lalu alumnus angkatan 1985 Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta…