Jumat, 13 November 2009 15:17 WIB Internasional Share :

Pengamanan gelaran KTT APEC 2009 super ketat

Singapura–Aparat keamanan Singapura memperketat pengamanannya dengan menyiagakan personilnya yang dilengkapi senjata lengkap di setiap titik. Hal itu dilakukan guna mengamankan gelaran KTT APEC 2009.

Berdasarkan pantauan, sebaran aparat berseragam biru tua tersebut paling banyak terlihat di kawasan Marina. Paling mencolok di komplek SUNTEC dan hotel-hotel tempat menginap para kepala negara anggota APEC.

Ada polisi yang ditempatkan di bawah pohon, di atas jembatan pertokoan dan di berbagai tempat terbuka. Di pinggang mereka terselip pistol, borgol, radio komunikasi dan pentungan.

Contohnya di Istana Singapura yang menjadi tempat PM Lee Hsien Loong menyambut resmi para Kepala Pemerintahan negara anggota APEC yang hadir.

Misalnya saja ketika menjamu Presiden SBY pada Kamis malam, seluruh anggota rombongan yang meski berkalung id card resmi KTT APEC tetap dicocokan dengan daftar tamu.

Celakanya dua staff KBRI yang bertugas sebagai liason officer tidak tercantum dalam daftar itu.

Si sopir yang mengemudikan mobil van wartawan juga tidak tercantum namanya di daftar yang jadi pegangan polisi Singapura sehingga dilarang masuk kompleks Istana. Maka perlu usaha cukup panjang menyakinkan bila tiga orang tersebut adalah unsur pendukung bagi delegasi Indonesia.

Setelah melakukan pemeriksaan silang ke pihak panitia penyelenggara APEC, tidak berapa lama seluruh rombongan dipersilahkan masuk ke kompleks Istana.

Uniknya meski dalam kondisi siaga penuh, para polisi yang mayoritas muda usia itu nampak santai. Mereka tidak memasang sorot mata penuh selidik apalagi wajah seram bahkan warga dan pelancong tidak dilarang lalu lalang di sekitar kompleks SUNTEC.

Bisa jadi ini merupakan bagian standar operasi terkait image Singapura sebagai kota wisata belanja. Jadi ketatnya pengamanan ketat jangan sampai membuat wisatawan jadi masam.

dtc/isw

lowongan kerja
lowongan kerja Toko Berjaya/PT.Korin Berkah Jaya, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Guru Sejarah Melawan Intoleransi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (11/7/2017). Esai ini karya Nur Fatah Abidin, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah ikbenfatah@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (8/7) lalu alumnus angkatan 1985 Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta…