Jumat, 13 November 2009 13:55 WIB Ekonomi,Internasional Share :

Harga minyak melemah karena cadangan AS melonjak

New York--Harga minyak dunia melemah dipicu oleh melonjaknya inventaris minyak mentah Amerika Serikat yang mengindikasikan melemahnya permintaan di negara konsumen energi terbesar dunia itu, akibat resesi berkepanjangan.

Kontrak utama New York, untuk minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Desember turun 2,34 dolar menjadi 76,94 dolar AS per barel pada Kamis (12/11).

Sementara minyak mentah London, Brent Nort Sea juga pengiriman Desember turun 1,93 dolar menjadi 76,02 dolar per barel. Harga minyak turun karena Departemen Energi Amerika Serikat (DoE) dalam pengumumannya Kamis menyebutkan bahwa cadangan minyak mentah Amerika melonjak 1,8 juta barel pada pekan yang berakhir 6 November lalu, lebih besar ketimbang yang diantisipasi oleh pasar 200.000 barel.

Laporan mingguan tersebut dipublikasikan sehari lebih lambat dari pada yang dijadwalkan karena Hari Veteran di Amerika Serikat yang jatuh pada Rabu (11/11). Cadangan gasolin AS kenaikannya tidak terduga mencapai 2,5 juta barel sedangkan minyak sulingan, yang juga termasuk minyak solar dan bahan bakar pemanas, naik sekitar 300.000 barel, kata laporan tersebut.

Cadangan yang lebih tinggi itu bersamaan dengan pemulihan dolar yang menjadikan harga tertekan, kata analis. Para pedagang juga mencermati tinjauan bulanan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris, bahwa energi global juga dipengaruhi negara-negara industri maju.

Sementara itu permintaan minyak dunia nampaknya lebih tinggi dari pada yang diperkirakan karena pemulihan ekonomi di China, tetapi kenaikan harga dapat menggelincirkan ekspansi.

Data terakhir menunjukkan bahwa permintaan (minyak) global berjalan baik dengan kembali mencatat pertumbuhan tahun ke tahun pada kuartal keempat 2009, untuk pertama kalinya sejak kuartal kedua 2008.

IEA menaikkan perkiraannya untuk permintaan minyak global tahun ini sebesar 210.000 barel per hari, dan untuk tahun depan 140.000 barel per hari “menyusul data pendahuluan yang diperkirakan permintaan lebih kuat ” untuk Amerika Utara dan juga Asia dan Timur Tengah.

IEA juga mencatat bahwa di mana terdapat pandangan yang berbeda dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Beberapa “price hawks” menyatakan perlunya mengurangi produksi lagi karena cadangan minyak di pasar tetap tinggi.

Namun “nampaknya konsensus anggota lainnya bahwa kenaikan dalam target produksi mungkin dilakukan jika harga naik secara signifikan.”

Produksi OPEC saat ini naik ke tingkat tertinggi sejak Januari, kata Mike Fitzpatrick dari MF Global. Produksi dari 11 negara anggota OPEC di luar Irak naik 150.000 barel per hari dari September menjadi 26,48 juta barel per hari.

ant/isw

The jagongan, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO¬†— Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…