Kamis, 12 November 2009 10:32 WIB Ah Tenane Share :

Salah kuping

12ahtenaneSebagai perantauan yang sukses mengadu nasib di Ibu Kota, setiap pulang kampung Jon Koplo mengendarai mobil Avanza-nya. Begitu juga mudik Lebaran lalu yang ditemani Tom Gembus, temannya yang sama-sama berasal dari Klaten, hitung-hitung gantian nyetir. Setelah selama 10 jam perjalanan dari Jakarta, mobil sampai di Klaten, lalu Bendogantungan belok kanan ke arah Wedi.
Hari menjelang siang, perut terasa lapar, akhirnya Jon Koplo singgah di rumah makan tongseng ayam di Wedi yang selalu jadi jujugan-nya bila pulang menuju ke Bayat.
Sembari melepas penat, Koplo dan Gembus  menikmati hidangan dan ngobrol ngalor-ngidul seputar perubahan kota asal mereka dari tahun ke tahun. Setelah makan Koplo membuka bungkus rokoknya yang masih utuh. Karena belum punya korek api, ia pun beranjak menghampiri pelayan.
”Mbak, ngampil korek,” katanya.
Pelayan yang bernama Lady Cempluk itu pun tergopoh-gopoh menuju ke belakang.
Setelah ditunggu lumayan lama, Cempluk muncul. ”Ini Mas, sambel koreknya,” katanya sambil menyuguhkan sambal sak cowek-nya.
Jon Koplo menatap pelayan itu dengan bingung, lalu tertawa sambil geleng-geleng kepala .
”Mbak, saya tadi bilang ngampil korek, bukan minta sambel korek,” jelas Koplo.
”Oalah… Maaf Mas, salah dengar,” muka Cempluk pun merah padam menahan malu.  Kiriman Tumbuh Astuti Yeni, Gajihan RT 46/RW 14, Pandes, Wedi, Klaten.

Lowongan Pekerjaan
QUALITY CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…