Rabu, 11 November 2009 11:52 WIB News Share :

Todung sedih atas kesaksian Wiliardi ditekan penyidik

Jakarta–Anggota Tim Delapan Todung Mulya Lubis mengaku sedih dengan adanya kesaksian mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wiliardi Wizar yang mengaku ditekan oleh penyidik dalam kasus dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasruddin Zulkarnaen.

“Saya sedih kalau mendengar ini,” kata Todung di sela “Workshop Polri 2009” dengan tema Membuka Ruang Transparansi Publik Menyongsong UU Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, di Jakarta, Rabu (11/11).

Wiliardi dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada sidang kasus dugaan pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasruddin Zulkarnaen dengan terdakwa mantan Ketua KPK Antasari Azhar, menyatakan adanya rekayasa dalam penetapan tersangka Antasari.

Wiliardi mengaku ditekan oleh penyidik. Bahkan dalam kesaksiannya, Wiliardi juga menyebutkan sejumlah pejabat tinggi di Mabes Polri. Kendati demikian, Todung yang juga Ketua Transparency International Indonesia (TII), menyatakan, hal tersebut menunjukkan perlu ada instropeksi dalam proses penyidikan dan penyelidikan di Polri. “Agar (kejadian serupa) tidak terulang kembali,” katanya.

Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mempertanyakan kesaksian Wiliardi Wizar, yang menyatakan mendapatkan tekanan dari penyidik ketika polisi akan menetapkan Antasari Azhar sebagai tersangka.

“Masak kombes (Wiliardi) diperiksa oleh AKP (Ajun Komisaris Polisi), Kompol (Komisaris Polisi) di Polda Metro Jaya,” katanya dalam workshop tersebut.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mempersilakan Wiliardi untuk berbicara seperti itu, namun faktanya akan dibuktikan di sidang. “Kalau perlu hakim menampilkan siapa penyidiknya,” katanya.

ant/isw

Lowongan Pekerjaan
OPERATOR CETAK PT Solo Grafika Utama, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…