Rabu, 11 November 2009 11:10 WIB Haji,Internasional Share :

Terkendala bahasa, BPIH lengkapi Calhaj kartu bergambar

Jakarta–Kendala bahasa Arab mungkin banyak dialami hampir semua jamaah calon haji Indonesia, sehingga banyak yang tidak mau dirawat di rumah sakit Arab Saudi ketika sakit.

Oleh sebab itu, Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) berupaya menghilangkan kendala itu dengan membagikan kartu bergambar tiga bahasa, Inggris, Indonesia dan Arab.

“Dengan kartu itulah pasien kita berkomunikasi dengan perawat RS Arab Saudi. Kalau haus, ia tinggal panggil perawat kemudian menunjuk gambar orang minum, kalau ingin pipis ia tinggal tunjuk gambar orang berkemih,” kata Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bidang Kesehatan, Barita Sitompul, yang ditemui wartawan Tim Media Center Haji di BPHI Daker Makkah, kawasan Kholidiyah, Makkah, Selasa (10/11.

Menurut Barita, kartu tersebut merupakan terobosan PPIH tahun lalu yang diteruskan hingga sekarang. Kartu itu terbuat dari kertas manila ukuran A4 yang bergambar beberapa macam aktivitas. Antara lain, gambar orang sakit perut, sakit kepala, menggigil, minum, berkemih, muntah-muntah, serta gambar toilet. Kartu yang dicetak sebanyak 200 lembar itu dibekalkan pada setiap pasien yang perlu dirujuk ke RS Arab Saudi.

Barita menambahkan, tidak semua kasus penyakit calhaj Indonesia bisa diatasi BPHI, karena keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Untuk pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah misalnya, harus dirujuk ke RS Arab Saudi karena BPHI tidak memiliki unit hemodialisis (mesin pencuci darah).

“Selama ini, banyak jamaah yang tidak mau dirawat di RA Arab Saudi, karena khawatir sulit berkomunikasi dengan perawat atau dokter Arab Saudi. Namun dengan kartu ini kendala itu bisa diatasi,” jelas Barita yang juga menjabat sebagai Kepala BPHI Daker Makkah ini.

dtc/isw

lowongan kerja
lowongan kerja Timbul Jaya Motors, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…