Selasa, 10 November 2009 14:31 WIB News Share :

Ketua IPHI
Julianto keponakan mantan menteri era orde baru


Jakarta–
Ketua Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Henry Rusdijanto meyakini bahwa Julianto yang disebut-sebut Ari Muladi memang berwujud, tidak fiktif. Julianto yang pribumi dan berkulit putih itu pernah menjadi pengurus MKGR dan merupakan keponakan seorang menteri zaman Pak Harto.

Henry yakin bahwa Julianto yang ia maksud adalah Julianto yang dimaksud Ari Muladi. Ciri-ciri Julianto yang pernah terlibat dalam kasus penggelapan uang Rp 100 juta pada 1997 itu memang sama. Saat terbelit kasus itu, Julianto pernah didampingi pengacara berinisial P, yang merupakan anggota IPHI.

Lewat P inilah, Henry mengetahui cerita tentang Julianto. Dalam perjalanan hidupnya di Surabaya, kata Henry, Julianto pernah menjadi pengurus Musyawarah Kekeluaragaan Gotong Royong (MKGR) Jawa Timur. Ayah Julianto, Soewarso (alm), juga pernah menjabat sebagai salah satu ketua MKGR Jatim.

Julianto juga dikenal sangat dekat dengan para pejabat. Sebab, Julianto merupakan keponakan dari seorang menteri. “Menteri wanita itu berinisial MS, yang menjabat saat zaman Orde Baru rezim Soeharto,” kata Henry, Selasa (10/11).

Selain itu, Julianto juga merupakan ipar salah seorang pejabat petinggi ABRI. Apa pekerjaan sehari-hari Julianto? Henry tak tahu pasti. Namun, menurut P, Julianto sering membantu penyelesaian suatu kasus, khususnya lewat jalur belakang. “Markus ? seperti itulah,” ujar Henry.

Lantas bagaimana tentang kabar ada hubungan Julianto dengan Komjen Pol Susno Duadji? Henry tidak tahu apakah Julianto kenal Susno. Yang jelas, Susno pernah bertugas sebagai Wakapolwiltabes Surabaya pada tahun 1999. Sedangkan kasus penggelapan uang Julianto yang terjadi pada 1997 ditangani oleh Polwiltabes Surabaya.

Apakah benar Julianto yang dimaksud Henry adalah Julianto yang dimaksud Ari Muladi? Belum ada konfirmasi dari Ari Muladi. Bukti foto Julianto juga tak pernah ada.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…