Senin, 9 November 2009 16:54 WIB News Share :

Kasus HIV/AIDS di Jateng cenderung meningkat

Semarang–Jumlah kasus infeksi HIV/ Aids yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dalam lima tahun terakhir, cenderung terus mengalami peningkatan.

“Pemeriksaan secara sukarela melalui layanan klinik Voluntary Counceling and Test terbukti efektif untuk mengetahui kasus inveksi HIV/ Aids,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Hartanto, di Semarang, Senin.

Menurut dia, klinik pemeriksaan sukarela ini terdapat di sejumlah tempat layanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan serta bantuan sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang peduli mengenai HIV/ AIDS. Hasil pemeriksaan di klinik tersebut, kata dia, tentu memengaruhi kasus infeksi HIV/AIDS yang terjadi di provinsi ini.

“Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan sudah seharusnya,” katanya.

Peningkatan jumlah kunjungan ke klinik pemeriksaan sukarela ini, lanjut dia, tidak lepas dari peran penjangkau atau petugas yang berhubungan langsung dengan orang yang diduga terinfeksi HIV/ AIDS, misalnya lembaga swadaya masyarakat.

Jika dilihat berdasarkan umur orang yang terinfeksi, kata dia, kasus terbesar justru terjadi pada kelompok usai produksi, dengan rentang antara 25-29 tahun.

Kelompok umur ini, menurut dia, berisiko terinfeksi cukup besar mengingat pada usia tersebut, aktivitas seksual serta kerawanan seseorang menggunakan narkotika cukup tinggi.

Sementara itu, faktor risiko penularan terbesar, lanjut dia, berasal dari para kaum heteroseksual serta pengguna narkotika jenis suntik.

Adapun berbagai upaya untuk menanggulangi penyebaran HIV/ AIDS, kata dia, telah dilakukan pemerintah proinsi ini, seperti pembuatan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2009 tentang penanggulangan HIV/AIDS, sosialisasi dan advokasi, memperbanyak jumlah klinik pemeriksaan sukarela serta klinik Infeksi Menular Seksual, dan sebagainya.

Selain itu, lanjut dia, terdapat indikator derajat kesehatan Jawa Tengah yang akan dilaksanakan pada tahun 2010, seperti menekan angka kematian bayi menjadi 40 per 1.000 kelahiran, angka kematian ibu melahirkan menjadi 150 per 100.000 kelahiran, menekan angka kesakitan demam berdarah menjadi 2 per 100.000 penduduk.

Secara terpisah, anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah Wahid Ahmadi mengemukakan, angka kasus infeksi HIV/ AIDS di provinsi ini cukup tinggi. Menurut dia, kasus infeksi yang terjadi telah menembus lebih dari 1.000 penderita.

Ia menuturkan, nggaran sebesar Rp 716,33 miliar yang diusulkan pemerintah provinsi pada tahun 2010 diharapkan mampu menanggulangi penyebaran infeksi virus mematikan tersebut.

Ant/tya

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoaks dengan Logika

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (20/6/2017). Esai ini karya Rahmi Nuraini, alumnus Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang. Alamat e-mail penulis adalah rahminoer@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Kampanye untuk menghentikan berita bohong atau hoaks yang mengandung fitnah dan ujaran kebencian di…