Sabtu, 7 November 2009 16:55 WIB News Share :

Menneg LH
Indonesia akan turunkan emisi CO2 hingga 26%

Kotabaru–Menteri Negara Lingkungan Hidup Prof Dr Gusti Muhammad Hatta menegaskan bahwa Indonesia akan berusaha  menurunkan emisi karbon (CO2) hingga 26 persen dari tingkat emisi gas rumah kaca (GRK).

“Meski Indonesia bukan termasuk negara yang diharuskan menurunkan emisi karbon, namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen akan membantu menurunkan emisi karbon hingga 26 persen,” kata Hatta di Banjarmasin, Sabtu (7/11).

Langkah itu membuat negara-negara di dunia salut kepada Indonesia. Ia mengatakan kontribusi terbesar untuk menurunkan dampak emisi GRK tersebut di antaranya menjaga kondisi hutan dan lahan agar tetap hijau dan mengurangi penggunaan BBM dari fosil hewan.

Indonesia juga memprogramkan menanam “sejuta pohon” dan kini telah dilaksanakan oleh beberapa daerah.   “Bukan hanya program menanam sejuta pohon tetapi juga merawat dan memeliharanya,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga tidak akan mengeluarkan izin perubahan status hutan dari hutan lindung (HL) menjadi kawasan hutan produksi terbatas (HPT). Akibat perubahan status hutan tersebut saat ini telah terjadi kerusakan hutan rata-rata 1,1 juta hektare per tahun.

Sementara kemampuan pemerintah untuk memperbaiki kawasan hutan yang rusak itu hanya sekitar 500.000 hektare per tahun. Ia mengatakan akan mengkaji perubahan rencana tata ruang wilayah, untuk menghindari perubahan fungsi hutan akibat pembukaan lahan.

“Saat ini banyak perusahaan yang datang kepada saya, namun semuanya saya tolak karena saya tahu maksud dan tujuan mereka  terkait dengan lingkungan,”ujarnya.

Hatta mengatakan akan berkoordinasi dengan beberapa departemen untuk menurunkan emisi karbon tersebut.

Sebelumnya Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Marzan Aziz Iskandar mengatakan industri merupakan salah satu sektor yang mengeluarkan emisi GRK cukup tinggi. Ia mencatat dengan konsumsi yang mencapai 37,14 persen, sektor industri mengeluarkan emisi 27 persen atau 77,22 juta ton dari total emisi energi nasional.

Selain itu emisi karbon juga  berasal dari penggunaan bahan bakar dan listrik, serta akibat proses produksi seperti penggunaan bahan bakar kokas sebagai bahan baku di industri baja. Beberapa industri yang secara intensif menggunakan energi itu yakni industri semen, baja, pulp dan kertas, tekstil dan petrokimia.

Jika menggunakan skenario efisien, urainya, penurunan emisi karbon pada 2025 dari industri semen mencapai 17,41 persen, industri besi dan baja 15,36 persen, industri pulp dan kertas 17,52 persen dan industri tekstil 27,79 persen.

Ia mencontohkan penghematan energi di industri besi baja dari proyek yang telah diselesaikan mencapai 51.607.436 kWh per tahun dengan nilai penghematan mencapai 12.967.391 dolar AS per tahun, serta pengurangan emisi 115.481 ton CO2 per tahun.

Selain dengan skenario efisien, pengurangan karbon bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan energi terbarukan, misalnya dengan bahan bakar nabati dari kelapa sawit, energi surya, panas bumi, angin, air hingga ombak.

Pemanfaatan energi terbarukan ini, lanjut dia, masih minim, misalnya energi panas bumi dari potensinya 27.150 MW hanya dimanfaatkan 1.042 MW, energi air dari potensi 75.670 MW hanya 4.200 MW, dan angin dari potensi 9.280 MW hanya 0,5 MW.

ant/isw

LOWONGAN PEKERJAAN
SUPERVISOR JAHIT & PENJAHIT HALUS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…