Rabu, 4 November 2009 23:27 WIB Boyolali Share :

Serangan kutu meluas, kerugian capai Rp 68,4 M


Boyolali (Espos)–
Kerugian yang dialami petani akibat serangan hama kutu putih pada tanaman pepaya di sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali diperkirakan mencapai Rp 68,4 miliar.

Sementara itu Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Boyolali dalam waktu dekat akan melepas varietas baru asli Boyolali, yaitu varietas Mojosongo.

Wakil Ketua DPRD Boyolali, Thontowi Jauhari mengemukakan perkiraan kerugian senilai Rp 68,4 miliar tersebut dihitung dari populasi pepaya di Kabupaten Boyolali yang diperkirakan mencapai 190.000 batang pohon. Perhitungan tersebut diperoleh dari setiap pohon, yang diperkirakan bisa menghasilkan lima hingga enam buah setiap bulan.

Sementara harga jual pepaya di pasaran antara Rp 1.500/buah hingga Rp 3.000/buah. Menurut Thontowi, jika satu bulan dihitung setiap pohon menghasilkan lima buah, maka setiap bulannya petani pepaya sudah kehilangan produksi 950.000 buah pepaya.

“Jika dihitung rata-rata per buah Rp 2.000, petani telah kehilangan pendapatan senilai Rp 1,9 miliar setiap bulannya,” ungkap Thontowi ketika ditemui wartawan di Gedung DPRD Boyolali, Rabu (4/11).

Serangan hama kutu putih, menurut Thontowi sudah berlangsung sejak sekitar enam bulan yang lalu. Sehingga bila diperhitungkan selama ini petani diperkirakan sudah rugi senilai Rp 11,4 miliar. Jika dihitung kerugian selama tiga tahun, lanjutnya, selama umur produktif pohon pepaya, maka kerugian bisa mencapai Rp 68,4 miliar.

Thontowi menuturkan data tersebut didapat dengan mensurvei secara langsung ke para petani di tiga kecamatan, yakni Mojosongo, Teras dan Musuk. Yang memprihatinkan menurut dia, belum terlihat peran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat untuk menanggulangi hama tersebut. Bahkan Thontowi menyebutkan sejumlah petani mengaku dinas terkait maupun petugas penyuluhan lapangan (PPL) belum melakukan penyuluhan.

“Kami minta pihak terkait benar-benar mengupayakan pengendalian hama kutu putih ini agar petani tidak merugi besar. Apalagi pepaya merupakan salah satu komoditas kebanggaan Boyolali,” imbuh Thontowi.

Kepala Distanbunhut Kabupaten Boyolali, Djuwaris membantah pihaknya tidak melakukan apa-apa terkait serangan hama tersebut. Djuwaris menyatakan pihaknya telah menerjunkan tim maupun PPL langsung ke lapangan untuk memantau hal itu. Namun Djuwaris menyatakan hingga saat ini pihaknya baru dapat melayani gabungan kelompok tani (Gapktan), tidak petani secara individu.
Terkait hama kutu putih yang saat ini menyerang sejumlah tanaman pepaya, Djuwaris mengatakan cukup banyak kendala dalam pengendaliannya. Selain merupakan jenis hama baru, ternyata hama tersebut belum ditemukan musuh alaminya.
“Selain belum ada obatnya, pengendaliannya relatif sulit dilakukan karena musuh alaminya pun tidak ada,” ungkap Djuwaris.

sry

Distributor Simas & Bimoli, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Jangka Kamardikan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (15/8/2017), karya Bandung Mawardi dari Bilik Literasi. Alamat e-mail bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Setahun setelah peristiwa bersejarah, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, terbit buku berjudul Djangka Djajabaja Sempoerna dengan Peristiwa Indonesia Merdeka garapan…