Selasa, 3 November 2009 20:04 WIB Pendidikan Share :

Kajian Islam di perguruan tinggi kurang berimbang

Solo (Espos)–Kajian Islam di perguruan tinggi dinilai belum berimbang dan berkutat pada studi keagamaan. Seharusnya ada kolaborasi antara kajian Islam dengan penggunaan disiplin ilmu lainnya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badang Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Depatemen Agama (Depag), Prof Dr H Atho Muzhar, MA. Dia mengatakan untuk mengkolaborasikan ilmu Islam dengan disiplin ilmu lainnya harus diketahui letak studi islam berdasarkan pembagiannya. Biasanya  ilmu dibedakan menjadi tiga bagian di antaranya ilmu sosial, kealaman dan sosial.

Sementara untuk kajian tentang filsafat Islam, teologi Islam  dan hukum Islam termasuk dalam lingkup budaya. “Kajian mengenai perilaku orang Islam dalam sebuah komunitas atau dalam pergaulannya dengan komunitas lainnya termasuk pola-pola perilaku dalam ilmu sosial,” papar dia dalam Annual Conference on Islamic Studies (ACIS),  Selasa(3/11).

Dia mengatakan, penelitian ataupun metodologi dalam kolaborasi kajian Islam dengan disiplin lainnya belum dikembangkan, selama ini perguruan tinggi masih berkutat pada program studi keagamaan.Menurutnya, metodologi kajian Islam di Indonesia perlu dirumuskan, karena metodologi itu tidak tergantung dengan terkait dengan kelembagaam suatu universitas. Kolaborasi dalam metodologi itu tergantung pada bidang ilmu yang dibahas.

“Saat ini penelitian maupun metodologi masih berkutat pada studi keagamaaan, sementara kolaborasi Islam dan disiplin ilmu lainnya belum digarap,” ungkapnya.

Dia menambahkan, harus ada standar metodologi yang tidak berkutat dengan ilmu keagamaan namun kolaborasi dengan bidang lainnya seperti kedokteran, sosial maupun hukum. Dengan demikian, sambung dia kajian Islam dapat lebih berkembang. “Nantinya ada kolaborasi Islam dibidang kedokteran dan maupun kajian lainnya.
das

lowongan kerja
lowongan kerja NUPEST CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Kampung

Gagasan ini dimuat Harian Solopos, Kamis (15/6/2017), karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan perkotaan. Solopos.com, SOLO–Ramadan datang membawa ingatan nostalgia atas peristiwa hidup di kampung. Bertahun-tahun lalu warga kampung di Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Solo,…