Selasa, 3 November 2009 10:56 WIB Ah Tenane Share :

Kabotan setrum

03ahtenaneProgram konversi minyak tanah ke gas elpiji menyisakan kisah menggelikan di Sragen beberapa waktu lalu ketika Mbokdhe Cempluk yang wong ndesa-sa ini punya gawe tetakan Jon Koplo, anaknya yang nomor dua.
Pada waktu itu Mbokdhe Cempluk mengundang para tetangga kanan kiri untuk rewangan sehingga sejak pagi rumah nya tampak regeng dengan acara masak memasak.
Ada yang bikin lemper, menggoreng emping, menanak nasi, masak sambel goreng dan sebagainya.
Ketika pas bakda Magrib, karena semua lampu dihidupkan dan ditambah beberapa lampu lagi biar suasana lebih terang, tiba-tiba saja mak pet!!! lampu di rumah Mbokdhe Cempluk padam. Melihat lampu para tetangganya masih menyala, Mbokde Cempluk menyimpulkan bahwa listriknya tidak kuat, ”Wadhuh setrume ora kuwat iki!”
Sampai di sini, pemikiran Mbokde Cempluk masih masuk akal. Namun tiba-tiba saja ia memberi komando dengan lantangnya kepada para tetangga yang sedang memasak, ”Anu wae, kompor gas-e dipateni sik! Mengko nek dipateni rak setrume kuat meneh,” begitu perintahnya dengan mimik serius. Namun apa yang terjadi? Yang mendengar justru malah ngguyu ger-geran.
”Dipateni piye, Dhe? Kompor gas ki ora nganggo setrum! Dipateni ora dipateni ya tetep ora kacek,” ujar Gendhuk Nicole, tetangganya, sambil ngguyu ngakak.
”Ooo.. ngono ta? Tak kira kompor gas ki ya nganggo listrik,” jawab Mbokde Cempluk tersipu-sipu. Maklum, sak jeg jumbleg ia tidak pernah mudheng dengan yang namanya kompor gas. Kasihan… –  Kiriman Rafi’ah, Candi RT 07, Gemolong, Sragen 57274.

Lowongan Pekerjaan
QUALITY CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pilkada, Demokrasi, dan Hantu Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (17/01/2018) dengan judul Demokrasi Kita dan Hantu Politik. Esai ini karya Muhammad Fahmi, dosen di IAIN Surakarta dan Doktor Kajian Budaya dan Media. Alamat e-mail penulis adalah fahmielhalimy@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tahun 2018 sering dijuluki…