Selasa, 3 November 2009 18:38 WIB News Share :

BAWA tentang pemusnahan anjing rabies


Denpasar–
Langkah Pemprov Bali mengatasi wabah rabies dengan membunuh atau eliminasi anjing secara massal ditentang organisasi internasional penyayang binatang. Mereka menilai, vaksinasi lebih efektif dibandingkan eliminasi.

Sikap tersebut disampaikan oleh organisasi BAWA (Bali Animal Welfare Assosiaciaton), Internasional Expert on Rabies, serta World Society for The Protection of Animal (WSPA) dalam jumpa pers. Acara ini diselenggarakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Denpasar di Warung Kopi, jalan Puputan Raya Renon, Denpasar, Selasa (3/11).

“Kami mengajak pemerintah Provinsi Bali untuk melakukan vaksinasi anti rabies saja karena lebih efektif membasmi rabies daripada eliminasi anjing secara massal,” kata Janice Girardi dari BAWA.

Ia mencontohkan, Indonesia pernah mengatasi rabies dengan eliminasi atau membunuh anjing secara masal namun tidak berhasil. Hasilnya, rabies tetap ada sampai saat ini di beberapa daerah di Indonesia.

Negara lain, seperti India dan Argentina pun tidak berhasil membasmi rabies dengan proses eliminasi massal. “Jumlah anjing tidak akan berkurang dengan eliminasi serta gagal membasmi rabies,” kata Janice.

Selain tidak efektif, pencegahan vaksinasi anjing lebih murah dibandingkan dengan vakninasi kepada manusia yang tergigit anjing. Vaksinasi terhadap anjing hanya memerlukan biaya Rp 17 ribu sedangkan vaksinasi terhadap manusia sebesar Rp 1 juta. Sejak kasus rabies merebak di Bali, RSUP Sanglah mengeluarkan biaya Rp 60 juta untuk 60 pasein setiap harinya.

Organisasi binatang dunia optimis, jika Pemprov Bali fokus menangangi rabies dengan vaksinasi, maka pihaknya akan mampu melakukan vaksinasi sebanyak 70 persen dari populasi anjing di Bali. Populasi anjing di Bali diperkirakan mencapai 500 ribu ekor.

Bahkan, mereka menargetkan akan mampu melakukan vaksinasi terhadap anjing sebanyak 300 ekor per hari. “Setelah divaksin anjing itu tidak boleh dibunuh,” ujar Janice.

Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan pihaknya telah berusaha sekuat tenaga mengatasi rabies. Namun, Pastika menilai kurang mendapat dukungan dari masyarakat Bali. “Masyarakat masih susah diajak untuk membasmi rabies,” ujar Pastika.

Sejak kasus rabies merebak, Pemprov Bali telah mengeluarkan dana Rp 5 Miliar. “Dana yang ada Rp 10 Miliar, separuh lebih sudah digunakan,” kata Pastika.

dtc/isw

lowongan pekerjaan
marketing, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…