021109ahtenane
Senin, 2 November 2009 11:38 WIB Ah Tenane Share :

Tarian pantat

021109ahtenaneKisah agak Jadul ini dialami oleh Lady Cempluk, seorang pembantu rumah tangga yang ngenger pada keluarga Gendhuk Nicole di Kota Bengawan. Karena berasal dari desa dan masih pakai kain untuk pakaian sehari-harinya, ia sering dipanggil Emak.
Ketika merayakan Tahun Baru, keluarga Gendhuk Nicole pergi ke sebuah vila di Tawangmangu. Tak terkecuali Mak Cempluk ikut juga.
Suatu malam, ketika Gendhuk Nicole sedang tiduran sambil nonton TV, tiba-tiba saja ada tikus njranthal di ruangan itu. Karuan saja semua penghuni vila, Gendhuk Nicole, Jon Koplo dan Tom Gembus jengkel dan ngoprak-oprak tikus itu. Namun sia-sia, si ”den bagus” tidak terpegang dan lari entah ke mana.
Di saat semua orang sudah lempe-lempe kelelahan, tiba-tiba saja Mak Cempluk meloncat-loncat sendiri ke sana-kemari kaya orang kesurupan.
”Ada apa Mak, kok kamu kayak gitu? Sudah, istirahat saja, nggak usah diteruskan nyari-nya,” kata Nicole.
Namun Mak Cempuk malah semakin tak karuan gayanya, ah uh ah uh sambil terus menepuki pantatnya tanpa bisa bicara. Selidik punya selidik ternyata jarit Mak Cempluk kemasukan tikus!
Sekeluarga pun bingung tak tahu harus diapakan. Kalau disuruh copot kain, tentu Mak Cempluk malu, akhirnya Gendhuk Nicole terpaksa nggebugi pantat Mak Cempluk supaya tikusnya mati.
”Aduh…! Aduh…! Geli… Geli…! Jangan digebuki, sakit!” sambat Mak Cempluk. Namun Gendhuk Nicole malah tambah bersemangat ngaploki pantat Mak Cempluk.
Akhirnya suara cit-cit-cit pun tak terdengar lagi dan Mak Cempluk yang gantian njranthal lari ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar sambil menenteng tikus yang sudah mati dengan muka merah dan napas krenggosan. Kasihan, tikus jantan kali ya…  Kiriman C Ikka Sri Litnaniyah SH SPd, Jl Kutai VII No 11 RT 07/RW 07, Sumber, Banjarsari, Solo.

lowongan kerja
lowongan kerja SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Krisis Kepribadian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (19/7/2017). Esai ini karya Indra Tranggono, pengamat budaya yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah indra.tranggono23@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Manusia harus menjadi majikan (penguasa) atas hawa nafsunya. Artinya ia berdaulat…