Senin, 2 November 2009 16:22 WIB Solo Share :

Republik Aeng aeng demo dukung KPK

Solo  (Espos)–Republik Aeng-aeng menggelar unjuk rasa mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (2/11) di Simpang Tiga Bundaran Kompleks Stadion Manahan.

Aksi dilakukan dengan mengikatkan kain hitam di lengan kanan patung manusia pembawa obor di Bundaran Stadion Manahan. Aksi heroik tersebut sebagai simbolisasi rasa duka wong Solo terhadap kriminalisasi KPK.

Mayor Haristanto ditemui wartawan di sela-sela aksi mengatakan, penahanan dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, sebagai bukti tidak adanya kejujuran dan keterbukaan di jajaran penegak hukum. Menurut dia, bukti-bukti kasus suap yang diduga melibatkan Bibit dan Chandra dinilai berbagai kalangan meragukan. “Ini bukti masyarakat Solo sangat berduka. Di negeri kita belum ada kejujuran dan keterbukaan. Bisa-bisanya menahan orang tanpa bukti kuat,” ujarnya.

Selain mengikatkan kain hitam di patung, pengunjuk rasa juga membentangkan poster mini bertuliskan “Duka KPK”. Sementara sebagai simbolisasi rasa duka masyarakat Solo, Mayor cs mengenakan kostum atau jubah warna hitam. Aksi yang tidak disertai orasi ini sempat menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas di area tersebut. Dalam kesempatan itu, Mayor mengajak bangsa Indonesia khususnya wong Solo, untuk menjadikan masa penahanan Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, sebagai hari berkabung nasional.

Kur

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…